Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan saudara yang tinggal di Bengkulu Utara. Keluarganya mengikuti program transmigrasi di jaman presiden Soeharto. Meski memiliki kebun sawit dan karet, namun secara umum kehidupannya sederhana.
Ada lahan yang cukup luas di pekarangan depan, samping dan belakang rumah. Jaman dulu, keluarga transmigran mendapat 2 hektar lahan kebun dan 1/4 hektar lahan pekarangan. 1/4 hektar itu 2500 m2, luas sekali jika dibandingkan dengan kepemilikan lahan di kota seperti di Jakarta atau Bekasi.
Selama ini ia membeli sayur dari pedagang. Ketika saya tanyakan, “Mengapa tidak menanam sayur sendiri?”, pertimbangannya karena repot mengurus kebun, harga sayur murah, tidak ada waktu dan tidak ada ide.
Harga sayur mungkin murah, namun jika mengeluarkan uang 5000 rupiah per hari, itu sama dengan 150 ribu rupiah per bulan. Jika mengeluarkan uang 10 ribu per hari, itu sama dengan 300 ribu rupiah per bulan. Kadang kita sulit menabung 300 ribu rupiah per bulan namun mudah mengeluarkan uang senilai itu.
Nilai itu mungkin kecil, namun ditengah fluktuasi harga komoditas dan kehidupan yang sederhana, nilai itu berharga untuk ditabung, misalnya untuk pendidikan anak. Menabung 10 ribu per hari itu pada hakikatnya menghemat 2x lipat, yaitu 20 ribu. Mengapa? Karena awalnya minus 10 ribu menjadi plus 10 ribu.
Menanam sayur juga bukan sekedar soal harga. Ini bisa menjadi pembelajaran buat anak-anak dalam mengelola lahan pekarangan rumah. Kita bisa mulai dari sudut kecil di kebun, mengolah lahan dari bahan yang ada dan menanam sayuran yang paling sering dikonsumsi.


Untuk tahap awal tidak mesti memikirkan penjualan. Target awal adalah mendapatkan sayuran segar secara rutin, sehat dan murah setiap harinya. Efek lanjutannya adalah memanfaatkan lahan yang ada agar lebih bermanfaat.
Menanam sayur mungkin tidak semudah disampaikan dalam kata-kata. Namun pantas dicoba karena kita bisa mendapat ilmu dan pengetahuan baru untuk menyiasati kesulitan. Kalaupun kita mengeluh soal kesulitan hidup, kita-kita juga yang merasakannya.
Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.