Zeze Zahra punya dua jenis jagung yang ditanam di kebun. Jagung manis untuk dijual, jagung tawar untuk pakan ternak. Kali ini saya mau cerita soal jagung tawar — yang mungkin kalah populer dibanding jagung manis, tapi perannya justru vital dalam sistem pertanian terpadu di kebun Zeze Zahra.
Jagung tawar saat ini ditanam bukan untuk dijual, melainkan untuk kebutuhan sendiri. Batang dan daunnya jadi pakan hijauan, biji jagungnya jadi pakan ayam. Skema ini kami sebut integrasi pertanian-peternakan: apa yang tumbuh di kebun, kembali ke kandang. Kotoran ayam jadi pupuk, jagung yang dipanen jadi pakan. Siklusnya tertutup, nggak ada yang terbuang percuma.
Lokasi tanamnya di dua tempat: di kebun rumah kabin Zeze Zahra dan di area kebun mangga. Kedepannya kami pakai system tanam bertahap (staggered planting) supaya panen bisa dilakukan sedikit-sedikit tapi rutin, bukan borongan sekali langsung habis. Ini penting karena kebutuhan pakan ternak itu kontinu, nggak bisa putus.
Jagung tawar nggak perlu perawatan serumit jagung manis. Soalnya nggak ada tuntutan soal rasa atau ukuran — yang penting tumbuh dan bisa dipanen. Tapi bukan berarti kami abaikan. Pupuk dari kohe dan urine sapi serta kambing Zeze Zahra tetap dipakai. Pengairan dijaga, hama dipantau.

Prosesnya memang nggak selalu mulus. Tapi karena tujuannya buat pakan sendiri, kami tetap lanjut. Nggak ada hitungan rugi secara bisnis — toh nggak ada biaya beli pakan yang keluar. Ada sih, yaitu biaya untuk benih, pupuk dan perawatan.
Hasilnya? Alhamdulillah, ayam-ayam dapat pakan dari kebun sendiri. Kebun jadi lebih produktif karena setiap jengkal lahan punya fungsi.

Ke depan, kami ingin memperluas area tanam jagung tawar ini supaya kebutuhan pakan ternak bisa terpenuhi lebih banyak. Kalau ada rekan-rekan yang punya pengalaman serupa — integrasi kebun dan kandang — sharing dong di kolom komentar. Siapa tahu ilmunya bisa saling melengkapi. ![]()