Di Zeze Zahra Excellent Farm, Batujaya, Karawang, kami memiliki bedengan yang sebelumnya digunakan untuk menanam berbagai tanaman hortikultura dan palawija.
Namun, karena kondisi lahan yang sering terendam air, budidaya tanaman tersebut menghadapi kendala. Akhirnya, kami memutuskan untuk memanfaatkan bedengan yang sudah ada untuk mencoba menanam padi dengan pendekatan Sawah Pokok Murah (SPM).
**Selaras dengan Sistem Pertanian Terpadu Pak Bayu Diningrat**
Di Zeze Zahra, kami juga belajar sistem pertanian terpadu (*Integrated Farming System*) dari Pak Bayu Diningrat, guru kami dalam bidang pertanian terpadu.
Salah satu pelajaran pentingnya adalah bagaimana pertanian, peternakan, pengelolaan tanah, air, dan bahan organik dapat saling mendukung.
Contohnya, jerami dari sawah bisa dimanfaatkan untuk pakan sapi. Kotoran sapi kemudian diolah menjadi kompos yang dapat dikembalikan ke lahan.
Dengan pendekatan ini, kami berusaha mengurangi bahan yang terbuang dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di farm secara lebih baik.

**Mengenal Sawah Pokok Murah dari Ir. Djoni**
Sawah Pokok Murah merupakan pendekatan budidaya padi yang digagas oleh Ir. Djoni dari Sumatera Barat, dengan tujuan menekan biaya produksi sekaligus memanfaatkan sumber daya lokal.
Prinsipnya antara lain menggunakan jerami dan pupuk kandang sebagai bahan organik, mengelola air secara lebih efisien, mengurangi ketergantungan pada input kimia, serta menyederhanakan proses budidaya.
Padi dapat ditanam pada bedengan dengan parit di antaranya, sehingga pengelolaan air tidak harus selalu berupa penggenangan seluruh permukaan lahan.
**Bagaimana penerapannya di Zeze Zahra?**
Percobaan kali ini sebenarnya belum sepenuhnya ideal.
Karena ada keterlambatan dalam persiapan lahan, bibit padi yang digunakan akhirnya tercampur dari beberapa varietas. Ini bukan sesuatu yang kami rencanakan sejak awal.
Begitu pula dengan jerami. Saat persiapan lahan, persediaan jerami sudah habis dimanfaatkan sebagai pakan sapi. Karena itu, mulsa jerami baru kami tambahkan belakangan, setelah tersedia kembali.
Untuk media tanam, kami memanfaatkan kompos kotoran sapi yang sudah matang, sedangkan parit di antara bedengan digunakan untuk membantu pengelolaan air.
**Bagaimana hasilnya sejauh ini?**

Dari pengamatan sementara, pertumbuhan tanaman terlihat cukup baik. Rumpun berkembang dan malai mulai terbentuk. Kami juga mengintegrasikan padi di sawah dengan bebek, ikan dan belut.
Saat ini kami belum dapat menyimpulkan keberhasilan budidaya dari penampilan tanaman saja. Produktivitas gabah, kualitas hasil panen, serta biaya produksi tetap perlu dievaluasi.
Percobaan ini juga menjadi pembelajaran bagi kami mengenai pentingnya kesiapan lahan, keseragaman bibit, serta ketersediaan bahan organik sejak awal.
Untuk musim tanam berikutnya, kami akan kembali mengaplikasikan sistem pertanian terpadu dengan sawah SPM pada area sawah yang lebih luas.
Semoga pengalaman sederhana dari Zeze Zahra Excellent Farm ini bermanfaat sebagai bahan diskusi dan pembelajaran bersama.