Sawah Pokok Murah (SPM) di Zeze Zahra Excellent Farm — Seri 3

BIBIT MUDA, TANAM SEDIKIT, JARAK RENGGANG. APAKAH PADINYA BISA LEBIH PRODUKTIF?

Tulisan Sebelumnya :

Seri 1 : Mengapa Bertani Padi Harus Mahal? https://www.vavai.com/sawah-pokok-murah-spm-di-zeze-zahra-seri-1/

Seri 2 : Menanam Padi tanpa Membajak Sawah, Memangnya Bisa? https://www.vavai.com/sawah-pokok-murah-spm-di-zeze-zahra-excellent-farm-seri-2/

*****

Biasanya, petani berharap hasil panen yang banyak dengan menanam bibit padi dalam jumlah cukup banyak pada setiap lubang.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa menanam terlalu banyak bibit dalam satu rumpun justru dapat membuat tanaman saling bersaing?

Akar berebut ruang, daun saling menaungi, dan tanaman bersaing mendapatkan cahaya matahari serta unsur hara.

Dalam konsep Sawah Pokok Murah (SPM), pendekatannya berbeda.

Bibit yang digunakan masih muda, berumur sekitar 12–14 hari. Setiap lubang cukup ditanami 1–3 bibit, dengan jarak tanam yang relatif renggang, yaitu sekitar 30 × 30 cm.

Mengapa demikian?

Tujuannya adalah Memberikan Kesempatan Tanaman Mengembangkan Akar dan Anakan

Tanaman padi mempunyai kemampuan menghasilkan anakan, yaitu batang-batang baru yang tumbuh dari pangkal tanaman.

Sebagian anakan tersebut akan menjadi anakan produktif yang menghasilkan malai dan bulir padi.

Dengan menggunakan bibit muda, menanam secara dangkal, serta menyediakan ruang tumbuh yang cukup, SPM berupaya mendukung perkembangan akar dan pembentukan anakan produktif.

Jumlah bibit yang lebih sedikit juga mengurangi persaingan antartanaman dalam satu rumpun.

Namun, jumlah anakan yang banyak belum tentu otomatis menghasilkan panen tinggi. Yang lebih penting adalah jumlah anakan produktif, jumlah bulir bernas, dan hasil gabah saat panen.

Lalu, bagaimana tahapan penanamannya?

6 TAHAP MENYIAPKAN DAN MENANAM BIBIT PADI SPM

TAHAP 1 — Seleksi Benih yang Bernas

Gunakan benih padi berkualitas baik.

Dalam pedoman SPM, salah satu metode seleksi dilakukan dengan merendam benih dalam larutan air garam.

Campurkan sekitar 300 gram garam ke dalam 10 liter air, kemudian masukkan benih.

Benih yang terapung dipisahkan, sedangkan benih yang tenggelam dipilih untuk persemaian.

Seleksi ini membantu memisahkan benih berdasarkan kepadatannya, meskipun daya kecambah dan kesehatan benih tetap perlu diperhatikan.

TAHAP 2 — Membuat Persemaian yang Tidak Terlalu Rapat

Benih dapat disemai di lahan sawah, lahan kering, ataupun wadah persemaian.

Usahakan benih tersebar merata dan tidak terlalu rapat agar bibit mudah dipisahkan saat pindah tanam.

Dalam sistem SPM, persemaian sebaiknya dimulai bersamaan dengan pemasangan mulsa jerami pada bedengan.

Kebutuhan benih menurut pedoman diperkirakan **10–15 kg per hektare**, lebih hemat dibandingkan banyak praktik penanaman konvensional.

TAHAP 3 — Gunakan Bibit Muda Berumur 12–14 Hari

Bibit dipindahkan ke lahan setelah berumur sekitar 12–14 hari.

Mengapa menggunakan bibit muda?

Bibit muda berpotensi beradaptasi dan melanjutkan pertumbuhan dengan baik apabila dipindahkan secara hati-hati, akarnya tidak banyak rusak, dan kondisi lahan mendukung.

Hindari membiarkan bibit terlalu lama di persemaian tanpa alasan yang jelas.

TAHAP 4 — Tanam Sedikit dan Dangkal

Setiap lubang cukup ditanami **1–3 bibit padi**.

Kedalaman tanam sekitar **1–2 cm**, sehingga bibit tidak tertanam terlalu dalam.

Penanaman dangkal bertujuan membantu pertumbuhan awal tanaman dan menghindari tertanamnya titik tumbuh terlalu dalam.

Pastikan akar bibit tetap tertutup tanah dengan baik.

TAHAP 5 — Atur Jarak Tanam 30 × 30 cm

Dalam pedoman SPM, jarak tanam yang disarankan adalah sekitar **30 × 30 cm**.

Pada bedengan selebar 125 cm, dapat dibuat sekitar empat baris tanaman padi.

Pengaturan jarak ini memberikan ruang bagi tanaman untuk mengembangkan daun, akar, dan anakan.

Jarak yang lebih renggang juga membantu mengurangi persaingan antarrumpun, meskipun jumlah rumpun per hektare menjadi lebih sedikit.

Karena itu, produktivitas perlu dievaluasi berdasarkan hasil panen, bukan hanya ukuran rumpun.

TAHAP 6 — Tanam di Sela Jerami dan Jaga Kelembapan

Bibit padi ditanam di sela-sela mulsa jerami yang sudah menutupi bedengan.

Buka sedikit jerami pada titik tanam, masukkan akar bibit ke tanah, kemudian pastikan akar tertutup tanah.

Air dipertahankan melalui parit di antara bedengan.

Permukaan bedengan tidak perlu terus-menerus tergenang, tetapi tanah harus tetap lembap agar bibit tidak kekurangan air.

Pada masa awal pertumbuhan, amati bibit yang layu, mati, atau mengalami gangguan akar dan hama.

🌾 APA KEUNTUNGAN CARA TANAM INI?

Ada beberapa keuntungan yang ingin dicapai melalui pendekatan SPM.

✅ **Lebih hemat benih**, karena jumlah bibit per lubang lebih sedikit.

✅ **Mengurangi persaingan antartanaman**, sehingga setiap rumpun mendapat ruang tumbuh lebih luas.

✅ **Mendukung pertumbuhan akar dan anakan**, melalui bibit muda dan penanaman dangkal.

✅ **Mempermudah pengamatan tanaman**, karena jarak antarrumpun lebih teratur.

✅ **Berpotensi meningkatkan efisiensi budidaya**, apabila pertumbuhan dan hasil panen tetap baik.

Namun, perlu dipahami bahwa hasil akhir bergantung pada varietas, kondisi tanah, ketersediaan air, unsur hara, serta pengendalian hama dan penyakit.

PENGETAHUAN TAMBAHAN: MENGAPA JUMLAH ANAKAN PRODUKTIF PENTING?

Tidak semua anakan padi akan menghasilkan malai.

Ada anakan yang tumbuh tetapi tidak berkembang menjadi anakan produktif.

Karena itu, ketika menilai pertumbuhan padi, kita sebaiknya tidak hanya menghitung seluruh anakan, tetapi juga memperhatikan berapa banyak yang akhirnya menghasilkan malai.

Misalnya, rumpun yang terlihat sangat rimbun belum tentu menghasilkan gabah lebih banyak jika banyak anakannya tidak produktif.

**Tujuan SPM bukan semata-mata menghasilkan rumpun besar, tetapi mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dan hasil panen dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien.**

PENERAPAN DI ZEZE ZAHRA EXCELLENT FARM

Di Zeze Zahra Excellent Farm, kami mempelajari penerapan metode SPM menggunakan padi varietas Inpari. Kebetulan saat ini baru ujicoba penanaman pada satu petak sawah yang sebelumnya ditanami bawang merah dan kacang hijau.

Penerapan ini memang belum ideal, karena parit terlalu lebar, persiapan bedengan dilakukan secara cepat dan bibit diambil dari sisa tanaman di sawah lain. Meski demikian, melihat hasil awal sudah cukup memuaskan bagi kami.

Tujuan utama kami adalah ingin mengamati bagaimana bibit muda, jarak tanam, penggunaan mulsa jerami, serta pengaturan air memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Beberapa hal yang akan menjadi perhatian adalah perkembangan akar, jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif, pertumbuhan malai, dan hasil panen.

Seluruh hasil tersebut nantinya dapat dibandingkan dengan metode penanaman konvensional.

Karena bagi kami, keberhasilan pertanian bukan hanya tentang seberapa subur tanaman terlihat, tetapi juga bagaimana hasil panennya, berapa biaya yang dikeluarkan, dan apakah sistem tersebut mampu menjaga produktivitas lahan secara berkelanjutan.

**Menanam lebih banyak belum tentu menghasilkan lebih banyak. Yang penting adalah memberikan kondisi terbaik agar tanaman dapat tumbuh secara optimal.**

🌾 Pada tulisan selanjutnya:

**SERI 4 — Padi Tidak Harus Selalu Terendam Air. Bagaimana Cara Mengaturnya?**

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *