MENANAM PADI TANPA MEMBAJAK SAWAH, MEMANGNYA BISA?
Bagi sebagian besar petani, membajak sawah merupakan kegiatan yang hampir selalu dilakukan sebelum menanam padi.
Setelah panen, tanah dibajak, dilumpurkan, diratakan, kemudian digenangi air sebelum bibit padi ditanam. Kegiatan ini sudah berlangsung turun-temurun dan dianggap sebagai bagian penting dalam budidaya padi.
Namun, pernahkah kita bertanya:
Apakah sawah harus selalu dibajak setiap musim tanam? Apakah padi harus terus-menerus ditanam di tanah berlumpur yang tergenang air?
Ternyata, ada pendekatan berbeda yang dikenal sebagai Sawah Pokok Murah (SPM).
Salah satu prinsip utamanya adalah budidaya tanpa membajak atau mengolah tanah secara intensif.
Mengapa Tanah Tidak Harus Selalu Dibajak?

Tanah bukan sekadar tempat tanaman berdiri. Di dalamnya terdapat akar, mikroorganisme, cacing, bahan organik, air, serta ruang-ruang udara yang membentuk sebuah ekosistem.
Pengolahan tanah memang mempunyai manfaat. Namun, pembajakan dan pelumpuran yang dilakukan berulang kali juga dapat mengganggu struktur tanah dan kehidupan organisme di dalamnya.
Dalam konsep SPM, tanah tidak dibajak atau dilumpurkan. Sebagai gantinya, lahan dibuat menjadi bedengan-bedengan yang dipisahkan oleh parit untuk mengatur air.
Jerami sisa panen dimanfaatkan sebagai mulsa penutup tanah.
Dengan pendekatan tersebut, struktur tanah diharapkan lebih terjaga, bahan organik dapat dimanfaatkan kembali, penggunaan air lebih efisien, dan biaya pengolahan lahan bisa ditekan.
Lalu, bagaimana cara menerapkannya?
7 TAHAP MEMBUAT SAWAH SPM
berikut adalah tahapan yang dapat dipraktikkan dalam pengolahan tanah dengan konsep SPM.
TAHAP 1 — Memotong Jerami Sisa Panen

Setelah panen, potong batang padi yang tersisa serendah mungkin, mendekati permukaan tanah.
Jerami tidak dibakar atau dibuang, tetapi dikumpulkan dan dibiarkan berada di lahan.
Jerami tersebut nantinya digunakan sebagai mulsa untuk menutup permukaan tanah.
Dengan demikian, sebagian hasil samping panen dikembalikan lagi ke sawah.
TAHAP 2 — Menggenangi Sawah Selama Dua Malam

Meskipun SPM tidak menerapkan penggenangan terus-menerus, pada tahap persiapan lahan sawah justru digenangi selama dua malam.
Tujuannya adalah melunakkan tanah agar lebih mudah dibuat parit dan mempermudah proses penanaman.
Setelah itu, air diatur kembali sehingga permukaan bedengan tidak terus-menerus tergenang.
Jadi, SPM bukan berarti sawah sama sekali tidak boleh digenangi, melainkan mengatur air sesuai kebutuhan tanaman dan tahapan budidaya.
TAHAP 3 — Membuat Parit dan Bedengan

Setelah tanah cukup lunak, buat parit-parit memanjang dengan ukuran:
Lebar parit sekitar 25–30 cm.
Kedalaman parit sekitar 15 cm.
Jarak antar parit sekitar 125 cm.
Tanah di antara parit menjadi bedengan tempat tanaman padi tumbuh.
Berbeda dengan bedengan sayuran, bedengan SPM tidak harus ditinggikan secara khusus. Bedengan terbentuk melalui pembuatan parit.
Pastikan seluruh parit terhubung dengan saluran pemasukan dan pembuangan air agar ketinggian air mudah dikendalikan.
TAHAP 4 — Menutup Bedengan dengan Jerami

Setelah bedengan selesai, hamparkan jerami sisa panen di atas permukaan tanah.
Ketebalan mulsa jerami yang dianjurkan sekitar 5 cm.
Usahakan seluruh permukaan bedengan tertutup jerami.
Manfaat mulsa jerami antara lain:
Menjaga kelembapan tanah.
Mengurangi pertumbuhan gulma.
Melindungi permukaan tanah dari paparan sinar matahari langsung.
Menjadi sumber bahan organik ketika terurai.
Mendukung kehidupan organisme tanah.
Dengan cara ini, jerami yang sering dianggap sebagai limbah pertanian justru menjadi salah satu komponen penting dalam SPM.
TAHAP 5 — Menyiapkan Persemaian Padi

Persemaian sebaiknya dimulai pada hari yang sama dengan pemasangan mulsa jerami.
Benih padi terlebih dahulu diseleksi untuk mendapatkan benih yang bernas dan sehat.
Pedoman SPM memperkirakan kebutuhan benih sekitar 10–15 kg per hektare.
Bibit kemudian dipelihara hingga berumur 12–14 hari.
Selama masa persemaian tersebut, mulsa jerami di lahan mulai menempel dan menyatu dengan permukaan tanah sehingga lebih mudah digunakan untuk penanaman.
TAHAP 6 — Menanam Bibit Padi Muda

Setelah bibit berumur 12–14 hari, penanaman dapat dilakukan dengan ketentuan:
Jumlah bibit 1–3 batang per lubang tanam.
Kedalaman tanam sekitar 1–2 cm.
Jarak tanam sekitar 30 × 30 cm.
Pada satu bedengan dapat dibuat sekitar empat baris tanaman.
Bibit ditanam di sela-sela mulsa jerami. Pastikan akar bibit tertutup tanah dengan baik.
Penanaman dangkal dan jarak tanam yang cukup renggang bertujuan memberikan ruang bagi perkembangan akar dan anakan padi.
TAHAP 7 — Mengatur Air dan Menjaga Kelembapan Tanah

Inilah salah satu perbedaan penting antara SPM dan budidaya sawah konvensional.
Dalam SPM, air dipertahankan di parit-parit, sementara permukaan bedengan tidak digenangi secara terus-menerus.
Tanah pada bedengan harus tetap lembap agar tanaman memperoleh air yang cukup.
Saluran pembuangan juga harus berfungsi dengan baik, terutama ketika hujan deras.
Pada fase pembungaan dan pengisian bulir, ketersediaan air harus benar-benar diperhatikan karena kekurangan air pada fase tersebut dapat menurunkan hasil panen.
Apa Keuntungan Sistem Ini?
Jika diterapkan dengan baik, pendekatan SPM mempunyai beberapa potensi keuntungan.
Pertama, menghemat biaya pengolahan tanah. Petani tidak harus membajak dan melumpurkan sawah setiap musim tanam.
Kedua, memanfaatkan jerami sisa panen. Jerami tidak menjadi limbah, melainkan bahan organik untuk memperbaiki kondisi tanah.
Ketiga, mengurangi kebutuhan pengendalian gulma. Mulsa jerami membantu menghambat pertumbuhan gulma, terutama pada awal pertumbuhan tanaman.
Keempat, meningkatkan efisiensi penggunaan air. Air tidak perlu terus-menerus menggenangi seluruh permukaan lahan.
Kelima, mendukung kesehatan tanah. Pengurangan gangguan mekanis dan penambahan bahan organik berpotensi mendukung struktur tanah serta kehidupan organisme di dalamnya.
Tentu saja, manfaat dan penghematan tersebut perlu dibuktikan melalui pengamatan dan perbandingan biaya maupun hasil panen dengan metode konvensional.
PENGETAHUAN TAMBAHAN: OKSIGEN TANAH DAN MASALAH ASEM-ASEMAN
Ada satu hal menarik dari sistem SPM, yaitu hubungannya dengan oksigen di lingkungan perakaran.
Akar tanaman membutuhkan oksigen untuk melakukan respirasi, yaitu proses menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan penyerapan unsur hara.
Padi memang mempunyai kemampuan beradaptasi dengan tanah tergenang. Namun, pada tanah yang terlalu lama kekurangan oksigen, terutama jika banyak bahan organik segar membusuk, dapat terbentuk senyawa yang mengganggu pertumbuhan akar.
Salah satu gangguan yang dikenal petani adalah asem-aseman.
Gejalanya antara lain daun menguning atau kemerahan, pertumbuhan terhambat, jumlah anakan berkurang, serta akar berwarna kecokelatan dan mengalami kerusakan.
Gangguan tersebut dapat berkaitan dengan kondisi tanah anaerob, penumpukan senyawa hasil pembusukan bahan organik, atau keracunan besi. Namun, gejala serupa juga dapat disebabkan oleh faktor lain sehingga perlu pemeriksaan kondisi lahan.
Bagaimana konsep SPM dapat membantu?
Karena air tidak terus-menerus menggenangi permukaan bedengan, sebagian tanah berpotensi memperoleh pertukaran oksigen yang lebih baik.
Selain itu, jerami ditempatkan di atas tanah sebagai mulsa, bukan dibenamkan dalam jumlah besar ke dalam lumpur.
Pendekatan ini berpotensi mengurangi sebagian kondisi yang memicu gangguan perakaran dan asem-aseman.
Namun, SPM bukan jaminan tanaman terbebas dari masalah tersebut. Pengaturan air, kondisi tanah, dan pengelolaan bahan organik tetap menentukan keberhasilannya.
Penerapan di Zeze Zahra Excellent Farm
Di Zeze Zahra Excellent Farm, kami mempelajari dan menerapkan pendekatan SPM dengan memanfaatkan jerami, kompos kotoran ternak, dan pengelolaan air melalui bedengan serta parit. Kami mengkombinasikan ilmu dari pak Bayu Diningrat (Petani Teman Sejati/PTS) dengan konsep dari Ir. Djoni yang mengenalkan konsep SPM.
Untuk penanaman awal, kami menggunakan padi varietas Inpari dan ingin membandingkan perkembangannya dengan tanaman padi yang dibudidayakan secara konvensional. Kedepan kami akan menggunakan juga padi jenis lain.
Hal-hal yang menarik untuk diamati antara lain perkembangan akar, jumlah anakan produktif, kesehatan tanaman, penggunaan air, biaya budidaya, serta hasil panen.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pertanian terpadu yang kami kembangkan: memanfaatkan sumber daya yang tersedia, mengurangi pemborosan, dan menjaga ekosistem pertanian tetap produktif.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pertanian bukan hanya tentang banyaknya hasil panen, tetapi juga berapa besar biaya yang dikeluarkan, keuntungan yang diperoleh, dan bagaimana tanah tetap subur untuk musim tanam berikutnya.
Pada seri berikutnya kita akan membahas:
SERI 3 — Mengapa SPM Menggunakan Bibit Padi Muda dan Jarak Tanam Renggang?
Bersambung…