Sawah Pokok Murah (SPM) di Zeze Zahra Excellent Farm — Seri 5 dari 8

JERAMI DAN BAHAN ORGANIK: MENGAPA MENJADI KUNCI DALAM SPM?

Setelah panen padi, biasanya tersisa jerami dalam jumlah cukup banyak. Sebagian dibawa keluar sawah untuk pakan ternak, sebagian dibiarkan membusuk, bahkan masih ada yang membakarnya karena dianggap mengganggu persiapan musim tanam berikutnya.

Padahal, pernahkah kita berpikir bahwa jerami yang dianggap limbah sebenarnya merupakan sumber daya berharga untuk memperbaiki kondisi tanah?

Dalam konsep Sawah Pokok Murah (SPM), jerami justru menjadi bagian penting dari sistem budidaya.

Jerami tidak dibakar, melainkan dimanfaatkan sebagai mulsa alami, yaitu lapisan bahan organik yang menutupi permukaan tanah.

Tujuannya bukan sekadar menghemat biaya, tetapi juga melindungi tanah, mempertahankan kelembapan, menekan pertumbuhan gulma, dan membantu mengembalikan bahan organik ke lahan.

🌱 Mengapa Jerami Sebaiknya Dikembalikan ke Sawah?

Tanah yang sehat membutuhkan bahan organik.

Bahan organik membantu memperbaiki struktur tanah, mempertahankan kelembapan, dan mendukung kehidupan organisme yang membantu proses penguraian.

Jerami padi mengandung karbon serta sejumlah unsur hara, termasuk kalium dan silika.

Ketika jerami terurai, sebagian unsur tersebut dapat kembali ke tanah dan dimanfaatkan dalam siklus pertumbuhan tanaman berikutnya.

Namun, penguraian ini membutuhkan waktu. Jerami bukanlah pupuk instan yang langsung menyediakan seluruh kebutuhan nutrisi tanaman.

Itulah sebabnya dalam SPM, jerami dikelola sebagai bagian dari sistem pemeliharaan kesuburan tanah secara berkelanjutan.

🚜 6 TAHAP MEMANFAATKAN JERAMI DAN BAHAN ORGANIK DALAM SPM

TAHAP 1 — Manfaatkan Jerami Sisa Panen

Setelah padi dipanen, potong sisa batang padi serendah mungkin, mendekati permukaan tanah.

Jerami hasil panen dikumpulkan atau dibiarkan tersebar di lahan agar dapat dimanfaatkan kembali.

Usahakan jerami tidak dibakar.

Pembakaran menghilangkan sebagian bahan organik, melepaskan asap, dan mengurangi kesempatan untuk mendaur ulang unsur hara ke tanah.

TAHAP 2 — Siapkan Bedengan Tanpa Membajak Tanah

Sesuai pedoman SPM, lahan digenangi selama dua malam untuk melunakkan tanah, kemudian dibuat parit.

Ukuran yang dianjurkan:

✅ Lebar bedengan sekitar 125 cm.

✅ Lebar parit sekitar 25–30 cm.

✅ Kedalaman parit sekitar 15 cm.

Tanah tidak perlu dibajak atau dilumpurkan.

Parit dihubungkan dengan saluran masuk dan keluar air agar kelembapan bedengan bisa dikendalikan.

TAHAP 3 — Hamparkan Jerami sebagai Mulsa

Setelah bedengan terbentuk, tutup permukaan tanah menggunakan jerami.

Ketebalan yang dianjurkan dalam pedoman SPM sekitar 5 cm.

Usahakan jerami menutupi permukaan tanah secara merata.

Mulsa ini membantu:

✅ Melindungi tanah dari paparan sinar matahari langsung.

✅ Mengurangi penguapan air.

✅ Menekan pertumbuhan gulma.

✅ Menambah bahan organik ketika terurai.

✅ Mendukung aktivitas organisme tanah.

Jika jerami tidak mencukupi, pedoman SPM juga memperbolehkan penggunaan sisa tanaman lain, seperti batang dan daun jagung.

TAHAP 4 — Manfaatkan Kompos Kotoran Ternak jika Diperlukan

Dalam pertanian terpadu, bahan organik tidak hanya berasal dari tanaman, tetapi juga dari peternakan.

Kotoran sapi, kambing, dan ternak lainnya dapat diolah menjadi kompos.

Kompos yang sudah matang dapat digunakan sebagai tambahan bahan organik dan sumber unsur hara bagi tanah apabila memang diperlukan.

Namun, perlu diperhatikan bahwa penambahan kompos ternak bukan tahapan wajib dalam pedoman SPM. Ini merupakan pilihan pengembangan dalam pertanian terpadu yang perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tanah.

Hindari menggunakan kotoran ternak segar secara berlebihan di sekitar akar tanaman.

TAHAP 5 — Tanam Padi di Sela Mulsa Jerami

Persemaian dimulai bersamaan dengan pemasangan mulsa.

Setelah bibit berumur 12–14 hari, penanaman dilakukan di sela-sela jerami.

Buka sedikit mulsa pada titik tanam, lalu tanam bibit sedalam sekitar 1–2 cm.

Pastikan akar tertutup tanah dan tidak hanya tersangkut di lapisan jerami.

Jumlah bibit sekitar 1–3 batang per lubang, dengan jarak tanam yang dianjurkan 30 × 30 cm.

TAHAP 6 — Jaga Kelembapan dan Amati Kondisi Tanah

Setelah penanaman, pertahankan air di parit dan jaga bedengan tetap lembap.

Mulsa jerami akan mengalami proses penguraian secara bertahap.

Perhatikan kondisi tanaman, pertumbuhan gulma, kelembapan tanah, dan tanda-tanda gangguan akar.

Pemupukan tambahan, apabila dibutuhkan, sebaiknya mempertimbangkan kondisi tanah dan tanaman.

Pedoman SPM mengutamakan pengurangan pupuk kimia. Jika pupuk kimia masih diperlukan, pedoman memberikan pilihan penggunaan sekitar sepertiga dosis yang biasa digunakan, bukan sebagai keharusan untuk semua lahan.

PENGETAHUAN TAMBAHAN: MENGAPA JERAMI SEBAIKNYA TIDAK LANGSUNG DIBENAMKAN KE LUMPUR?

Ada hal penting dalam pengelolaan jerami yang sering kurang diperhatikan.

Ketika jerami segar dibenamkan dalam tanah yang terus-menerus tergenang, proses penguraiannya dapat berlangsung dalam kondisi kekurangan oksigen atau anaerob.

Dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat menghasilkan senyawa seperti asam organik yang mengganggu pertumbuhan akar padi.

Gangguan perakaran semacam ini dapat berhubungan dengan kondisi yang sering disebut petani sebagai asem-aseman.

Karena itu, prinsip SPM yang menempatkan jerami sebagai mulsa di permukaan tanah dan menghindari genangan terus-menerus menjadi menarik untuk dipelajari.

Meski demikian, mulsa permukaan juga perlu dikelola dengan baik. Kondisi tanah, hama, drainase, dan kebutuhan nutrisi tanaman tetap harus diperhatikan.

Bahan organik memang bermanfaat, tetapi cara pengelolaannya sangat menentukan hasilnya.

🌱 PENERAPAN DI ZEZE ZAHRA EXCELLENT FARM

Di Zeze Zahra Excellent Farm, kami memandang jerami dan kotoran ternak bukan sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

Jerami sisa panen digunakan sebagai mulsa, sedangkan kotoran sapi dan kambing dapat diolah menjadi kompos.

Pendekatan ini merupakan bagian dari konsep pertanian terpadu yang kami kembangkan.

Hasil samping dari satu kegiatan dimanfaatkan kembali untuk menunjang kegiatan lainnya.

Meski demikian, kami tetap ingin mengukur manfaatnya secara nyata, terutama terhadap kondisi tanah, perkembangan akar, jumlah anakan produktif, kebutuhan pupuk, biaya budidaya, dan hasil panen.

Karena pada akhirnya, pertanian yang baik bukan hanya mengambil hasil dari tanah, tetapi juga mengembalikan sumber daya untuk menjaga kesuburannya.

🌾 Pada seri berikutnya:

SERI 6 — Mengendalikan Gulma dan Hama Padi dengan Prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Bersambung…

—

Referensi:

– Dinas Pertanian Kabupaten Agam (2025), Pedoman Sawah Pokok Murah.

– FAO, Mulching in Organic Agriculture.

– International Rice Research Institute (IRRI), publikasi mengenai pengelolaan jerami dan kesehatan tanah sawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *