Mengapa Bertani Padi Harus Mahal?
Pernahkah kita menghitung berapa biaya yang harus dikeluarkan petani sebelum padi menghasilkan panen?
Mulai dari membajak sawah, membeli benih, melakukan penanaman, membeli pupuk, menyemprot pestisida, sampai membayar tenaga kerja.
Belum lagi kalau tanaman terserang hama, kekurangan air, atau hasil panen tidak sesuai harapan.
Biaya terus bertambah, sementara harga gabah tidak selalu mengikuti kenaikan biaya produksi.
Lalu muncul pertanyaan menarik.
Apakah setiap musim tanam sawah harus selalu dibajak? Apakah padi harus terus-menerus terendam air? Apakah tanaman harus selalu diberi pupuk kimia agar tumbuh subur?

Ternyata, ada pendekatan budidaya yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Namanya Sawah Pokok Murah (SPM).
Metode ini dikembangkan oleh tim Dangau Inspirasi yang dipimpin Ir. Djoni dan telah menjadi salah satu program unggulan Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Konsepnya menarik.
Tanah tidak perlu dibajak setiap musim. Jerami sisa panen tidak dibakar, tetapi dimanfaatkan sebagai mulsa penutup tanah. Air dialirkan melalui parit di antara bedengan sehingga tanaman tidak harus selalu tergenang.
Bibit yang digunakan masih muda, ditanam dengan jumlah sedikit dan jarak yang relatif renggang.
Penggunaan pupuk serta pestisida kimia juga diupayakan seminimal mungkin.
Tujuannya bukan sekadar menghemat biaya, tetapi juga membangun lingkungan sawah yang lebih sehat dan produktif.
Apakah metode ini pasti lebih baik daripada sistem konvensional?
Tentu masih perlu dibuktikan melalui percobaan dan pengukuran hasil panen.
Di Zeze Zahra Excellent Farm, kami mempelajari dan menguji pendekatan SPM, termasuk memanfaatkan jerami dan kompos kotoran ternak sebagai bagian dari pengelolaan lahan secara terpadu.
Kami ingin mengetahui apakah sistem ini dapat menghasilkan tanaman yang sehat dengan biaya yang lebih efisien. Sejauh ini hasilnya sesuai harapan.
Pada tulisan berikutnya, kita akan membahas sesuatu yang mungkin terdengar tidak biasa.
Menanam padi tanpa membajak sawah. Bagaimana caranya?
Bersambung ke Seri 2.
⸻
Referensi: Pedoman Sawah Pokok Murah, Dinas Pertanian Kabupaten Agam (2025).