Sawah Pokok Murah (SPM) di Zeze Zahra Excellent Farm — Seri 6 dari 8

MENGENDALIKAN GULMA DAN HAMA PADI TANPA BERGANTUNG PADA RACUN KIMIA

Salah satu tantangan terbesar dalam budidaya padi adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Mulai dari gulma yang bersaing memperebutkan unsur hara, keong mas yang merusak tanaman muda, walang sangit yang menyerang bulir padi, hingga tikus yang dapat menghancurkan tanaman menjelang panen.

Selama ini, sebagian petani mengandalkan penyemprotan pestisida untuk mengatasi masalah tersebut.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa tidak semua serangga yang hidup di sawah merupakan hama?

Ada laba-laba, capung, kumbang predator, dan berbagai organisme lain yang justru membantu mengendalikan populasi hama secara alami.

Jika semua serangga dibasmi tanpa mempertimbangkan perannya, keseimbangan ekosistem sawah dapat terganggu.

Dalam konsep Sawah Pokok Murah (SPM), pendekatan pengendalian hama dilakukan dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Artinya, petani tidak langsung menggunakan racun kimia, tetapi mengutamakan pencegahan, pengamatan, pengendalian mekanis, dan pelestarian musuh alami.

Lalu, bagaimana penerapannya?

🚜 6 TAHAP PENGENDALIAN GULMA DAN HAMA DALAM SPM

TAHAP 1 — Amati Kondisi Sawah Secara Rutin

Pengendalian hama sebaiknya dimulai dari pengamatan, bukan penyemprotan.

Periksa tanaman secara berkala untuk mengetahui apakah terdapat gulma, kerusakan daun, batang terpotong, telur hama, atau tanda-tanda serangan penyakit.

Perhatikan pula keberadaan organisme yang menguntungkan, seperti laba-laba dan kumbang predator.

Dengan pengamatan rutin, kita dapat membedakan gangguan ringan yang masih dapat ditoleransi dengan serangan yang memerlukan tindakan.

Prinsipnya sederhana: kenali masalah sebelum menentukan pengendaliannya.

TAHAP 2 — Kendalikan Gulma Menggunakan Mulsa Jerami

Salah satu keuntungan SPM adalah penggunaan jerami sebagai mulsa penutup tanah.

Jerami dihamparkan pada permukaan bedengan dengan ketebalan sekitar 5 cm.

Mulsa membantu menghalangi cahaya matahari mencapai biji gulma sehingga pertumbuhannya dapat ditekan.

Namun, bukan berarti gulma sama sekali tidak akan tumbuh.

Jika masih ditemukan gulma, terutama yang berasal dari sisa bulir padi setelah panen, lakukan pencabutan secara manual.

Dalam pedoman SPM, pengendalian gulma sangat dianjurkan pada 0–45 hari setelah tanam (HST).

Mengapa?

Karena pada fase awal, tanaman padi masih berkembang dan sangat membutuhkan ruang, cahaya, air, serta unsur hara.

Gulma yang dibiarkan tumbuh dapat mengurangi produktivitas tanaman.

TAHAP 3 — Kendalikan Keong Mas Sejak Awal

Keong mas merupakan salah satu hama yang sering menyerang tanaman padi muda, terutama pada lahan tergenang.

Dalam SPM, tanaman berada pada bedengan yang tidak terus-menerus digenangi air.

Kondisi ini dapat mengurangi kesempatan keong mas mencapai dan merusak tanaman muda.

Namun, keong mas tetap dapat hidup di parit atau saluran irigasi.

Karena itu, lakukan pengamatan dan pengendalian dengan cara:

✅ Mengumpulkan keong mas secara manual.

✅ Mengambil dan memusnahkan kelompok telur yang ditemukan.

✅ Memeriksa saluran masuk air agar tidak menjadi jalur masuk keong.

✅ Menjaga permukaan bedengan tidak terus-menerus tergenang.

Pengendalian sebaiknya dilakukan sejak sebelum tanam hingga tanaman muda cukup kuat.

TAHAP 4 — Gunakan Perangkap untuk Walang Sangit

Walang sangit merupakan hama yang menyerang bulir padi, terutama ketika bulir masih berada pada fase masak susu.

Serangga ini mengisap cairan bulir sehingga dapat menyebabkan gabah hampa atau tidak terisi sempurna.

Pedoman SPM menganjurkan penggunaan perangkap sederhana yang dapat dibuat dari botol bekas.

Namun, perangkap bukan jaminan seluruh walang sangit dapat dikendalikan.

Pengamatan harus ditingkatkan ketika tanaman mulai berbunga dan memasuki fase pengisian bulir.

Jika diperlukan tindakan tambahan, pilih metode yang sesuai dengan tingkat serangan dan kondisi lapangan.

TAHAP 5 — Kendalikan Tikus Secara Terpadu

Tikus sawah merupakan salah satu hama yang dapat menyebabkan kerugian besar.

Berbeda dengan beberapa jenis serangga, tikus dapat merusak tanaman sejak fase vegetatif hingga menjelang panen.

Pengendalian tikus sebaiknya tidak menunggu hingga tanaman mengalami kerusakan berat.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:

✅ Mengamati lubang dan jalur aktivitas tikus di sekitar pematang.

✅ Membersihkan tempat persembunyian yang tidak diperlukan.

✅ Memasang perangkap pada lokasi yang sering dilalui tikus.

✅ Melakukan pengendalian secara bersama-sama dengan petani sekitar.

✅ Memanfaatkan sistem perangkap seperti TBS (Trap Barrier System) atau LTBS (Linear Trap Barrier System) apabila sesuai dengan kondisi lahan.

Di Zeze Zahra Excellent Farm, kami juga mempelajari penggunaan sistem perangkap tikus sebagai bagian dari pengendalian hama secara terpadu.

Pengendalian akan lebih efektif jika dilakukan sejak awal dan secara berkelanjutan.

TAHAP 6 — Pelihara Musuh Alami dan Gunakan Pestisida Secara Selektif

Tidak semua organisme di sawah harus dimusnahkan.

Laba-laba, capung, kumbang predator, dan berbagai serangga bermanfaat lainnya mempunyai peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Karena itu, penggunaan pestisida secara sembarangan justru berisiko mengurangi populasi musuh alami.

Dalam prinsip PHT, pengendalian dilakukan secara bertahap.

Dahulukan pengamatan, cara mekanis, konservasi musuh alami, dan penggunaan bahan pengendali yang sesuai.

Pestisida nabati dapat dipertimbangkan apabila efektivitas dan keamanannya sesuai untuk hama sasaran.

Pestisida sintetis digunakan secara selektif jika serangan telah mencapai ambang pengendalian yang relevan, serta harus mengikuti aturan penggunaan produk yang terdaftar.

Tujuan PHT bukan membunuh semua serangga, melainkan menjaga populasi hama agar tidak menimbulkan kerugian ekonomi.

🌱 APA KEUNTUNGAN PENDEKATAN INI?

Jika diterapkan dengan benar, pengendalian hama terpadu berpotensi memberikan sejumlah keuntungan.

✅ Mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.

✅ Menekan biaya pengendalian apabila tindakan pencegahan dan pengamatan berjalan baik.

✅ Melindungi organisme yang bermanfaat bagi tanaman.

✅ Mengurangi risiko gangguan lingkungan akibat penggunaan pestisida yang tidak tepat.

✅ Mendukung keseimbangan ekosistem sawah dalam jangka panjang.

Namun, pengendalian hama tetap membutuhkan pengamatan aktif. SPM bukan berarti petani membiarkan tanaman tanpa perlindungan.

🔬 PENGETAHUAN TAMBAHAN: MENGAPA KESEIMBANGAN EKOSISTEM PENTING?

Dalam ekosistem sawah, terdapat hubungan antara tanaman padi, hama, predator, mikroorganisme, air, dan kondisi tanah.

Sebagai contoh, laba-laba dapat memangsa beberapa jenis serangga hama.

Ketika populasi musuh alami tetap terjaga, mereka dapat membantu menekan perkembangan populasi hama.

Sebaliknya, penggunaan insektisida berspektrum luas secara berlebihan dapat membunuh organisme bukan sasaran, termasuk musuh alami.

Akibatnya, sebagian hama justru dapat kembali berkembang setelah penyemprotan.

Karena itu, ekosistem sawah yang sehat merupakan bagian dari sistem perlindungan tanaman itu sendiri.

🌾 PENERAPAN DI ZEZE ZAHRA EXCELLENT FARM

Di Zeze Zahra Excellent Farm, kami memandang pengendalian hama sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari konsep pertanian terpadu.

Penggunaan mulsa jerami, pengaturan air melalui parit, pemanfaatan bahan organik, dan pengendalian tikus menggunakan perangkap TBS serta menggunakan Rubuha (Rumah Burung Hantu) merupakan bagian dari pendekatan yang sedang kami pelajari dan terapkan.

Kami juga ingin membandingkan kondisi serangan hama dan jumlah musuh alami antara sawah SPM dan sawah yang dikelola secara konvensional.

Tujuannya bukan hanya mencari cara mengurangi penggunaan pestisida, tetapi juga memahami bagaimana ekosistem sawah dapat membantu mempertahankan produktivitas tanaman.

Karena pada akhirnya, pertanian yang baik bukan berarti sawah harus bebas dari semua organisme, melainkan mampu menjaga keseimbangan antara tanaman, hama, dan musuh alaminya.

🌾 Pada seri berikutnya:

SERI 7 — Apakah Sawah Pokok Murah Benar-Benar Lebih Hemat dan Menguntungkan?

Bersambung…

—

Referensi:

1. Dinas Pertanian Kabupaten Agam (2025), Pedoman Sawah Pokok Murah.

2. Kementerian Pertanian RI, Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Padi (2026).

3. Kementerian Pertanian RI, Kenali Gulma Tanaman Padi dan Pengendaliannya (2025).

4. Kementerian Pertanian RI, Petunjuk Teknis Pengendalian Tikus Sawah dengan Sistem Pemagaran Keliling (TBS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *