Pengalaman Bertani : Mengejar Perluasan, Melupakan Esensi

Saat dulu pertama kali memiliki kebun di Karawang, saya senang sekali bisa memetik dan membawa pulang hasil kebun. Kadang bisa membawa pulang pisang satu tandan. Lain waktu membawa pulang sayuran. Di waktu lain membawa mangga atau jambu.

Setelah semakin sering bolak-balik ke kebun, muncul niat untuk mengelola secara lebih intensif. Mulai menanam pisang dalam jumlah besar. Menanam sayur dalam jumlah banyak. Agar bisa menjual hasil kebun dan menjadikannya sebagai sumber penghasilan.

Ini sebenarnya pemikiran natural dan normal. Daripada kebun dibiarkan terlantar, lebih baik dikelola lebih baik. Namun masalahnya, saya jadi lupa pada esensi. Setelah mengerjakan yang pertama, langsung mengerjakan yang kedua. Setelah menanam pisang, disusul menanam melon, kangkung, kembang kol, manggam cabe dan lain sebagainya. Jadi saya terlena pada niatan ingin memperluas dan memperluas area penanaman.

Tiap datang ke kebun, pemikiran saya jadi komersil terus. Jadi ingin lebih banyak dan lebih luas. Padahal niatan awal adalah agar kegiatan berkebun ini bisa menjadi bagian dari proses kegiatan yang menyenangkan. Esensi utamanya adalah hiburan. Boleh saja sebagian ditujukan untuk aspek komersil, untuk menopang biaya perawatan. Namun aspek komersil itu seyogyanya juga diukur dan dipertimbangkan, agar saya tidak terus menerus terdorong untuk bekerja semakin keras dan semakin nggak ada waktu untuk istirahat.

Tulisan ini sebenarnya mengenai kebimbangan. Setelah dipikir-pikir, niatan saya bukan ingin membangun industri, melainkan membangun fasilitas yang bisa dinikmati. Jadi, daripada saya memikirkan perluasan dan memperbanyak jumlah maupun jenis tanaman, lebih baik saya fokus mengintensifkan apa yang ada. Perluasan boleh dilakukan jika memang sudah ada pertimbangan matang dan sudah disiapkan pengelolaannya.

Pada akhirnya, hidup kita milik kita. Susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *