Salah satu kesulitan jika memiliki lahan yang jauh dari rumah atau tidak setiap hari ditunggu adalah memiliki orang kepercayaan. Orang kepercayaan jarang sekali bisa didapatkan secara langsung. Butuh proses untuk menumbuhkan rasa saling percaya di antara kedua belah pihak.
Ada kalanya pemilik lahan yang baik bertemu dengan penggarap yang tidak amanah. Di sisi lain, ada juga penggarap yang baik bertemu dengan pemilik lahan yang zalim. Idealnya adalah pemilik lahan yang baik bertemu dengan penggarap dan amanah dan sebaliknya.
Pada tulisan sebelumnya, Zeze Zahra bercerita mengenai ternak kambing untuk petani yang menggarap sawah. Sebelum ternak kambing, Zeze Zahra memulainya dengan ternak bebek.
Zeze Zahra memberikan modal untuk ternak bebek untuk petani yang menggarap sawah. Anggaplah 10 ekor bebek dengan biaya Rp100.000 per ekor. Pakan untuk bebek menggunakan dedak dari padi yang digiling. Pakan juga diambil dari sisa makanan atau dari keong dan gulma di sawah.
Saat bebeknya bertelur, telurnya dikumpulkan. Jika produktivitas telur 60% per hari, berarti ada enam butir telur per hari. 10 hari ada 60 butir. Satu bulan ada 180 butir. Telur itu bisa dibagi 2. Misalnya 30 butir per 10 hari untuk petani penggarap dan jumlah yang sama untuk Zeze Zahra. Ada kalanya petani penggarap hanya mengambil 10 butir telur dan sisanya diberikan ke Zeze Zahra


Nah, Ini bagian tips menariknya. Zeze Zahra tidak mengambil telur itu secara langsung. Zeze Zahra membeli telur itu dengan harga pasaran, misalnya 2000 rupiah per butir.
Apakah tidak rugi? Secara kalkulasi kelihatan rugi, padahal tidak juga. Tujuan utama adalah membangun kepercayaan dan memberikan peluang penghasilan tambahan. Tujuan sampingan Zeze Zahra adalah mendapatkan telur yang bagus dan fresh.
Kadang petani penggarap bilang, “Kok telurnya dibayar, kan bebeknya milik Zeze Zahra”. Saya sampaikan bahwa itu hitung-hitung tambahan penghasilan. Zeze Zahra tidak dapat profit dari bebek namun mendapat profit dari sawah yang dikelola.