Saat membuat rumah kabin Zeze Zahra, yang saya lakukan adalah hal yang sederhana : mengikuti naluri. Niat awal adalah membuat tempat untuk bersantai dan menginap di akhir pekan. Setelah rumah kayu dibangun, naluri selanjutnya adalah merapikan tempatnya. Saya mulai menanam pohon-pohon buah agar suasananya sejuk dan rindang.
Saya juga mulai membeli tempat sampah, memasang hammock (tempat tidur gantung berbentuk ayunan), membeli meja dan kursi untuk bekerja sekaligus bersantai dan secara bertahap memasang paving block.
Prosesnya berjalan alamiah, apa yang terpikir kemudian disesuaikan dengan kemampuan. Kadang prosesnya butuh waktu berbulan-bulan, ya tidak apa-apa. Memasang paving block misalnya, butuh waktu berbulan-bulan karena biayanya saya anggap terlalu mahal. Akhirnya dipasang juga karena becek sekali saat hujan, hehehe…
Analogi ini mirip seperti saat kita membeli rumah kemudian mengisinya. Kita mungkin tidak ingat biaya apa saja yang dikeluarkan, karena niatnya adalah merapikan tempat dan membuatnya nyaman.
Karena mengikuti naluri, kegiatannya kemudian berkembang menjadi bentuk pertanian sayur dan buah. Saya menanam kangkung, bayam, cabe dan beberapa tanaman buah lainnya. Yang penting adalah bentuk awal, dalam hal ini bentuk rumah kayu yang menjadi rumah kabin. Jika sudah ada bentuk awalan, nanti otomatis yang lain akan mengikuti naluri untuk membuatnya lebih bagus.


Saya share cerita ini, karena kadang banyak dari kita yang maju mundur dalam merealisasikan impian kita. Sayapun sama, apalagi kalau apa yang akan dilakukan membutuhkan anggaran biaya yang tidak sedikit. Bahwa kemudian saya melakukannya, itu juga karena melewati kalkulasi panjang.
Tidak apa-apa merealisasikan apa yang kita inginkan, sepanjang itu baik dan sudah melalui perhitungan. Karena, hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.
