Sekilas, sawah seperti ini terlihat menenangkan. Bulir sudah berisi, warna mulai berubah, dan panen terasa tinggal menunggu waktu. Tapi di balik pemandangan itu, masih ada fase penting yang harus dijaga. Kalau terlalu cepat merasa aman, hasil panen bisa saja tidak sebaik yang diharapkan.
Di Zeze Zahra, padi yang kami tandur pada 12 Januari 2026 sekarang sudah masuk sekitar 87 HST. Dari penampilan malai yang sudah berisi dan mulai menunduk, ini tampaknya sudah masuk fase akhir pengisian bulir menuju pemasakan. Justru pada fase seperti ini petani tidak boleh lengah, karena hasil akhir tidak hanya ditentukan saat awal tanam, tetapi juga saat bulir sedang disempurnakan sampai mendekati panen. Fase pemasakan padi sendiri memang berada pada tahap pembentukan biji sampai panen.
Salah satu hal yang paling perlu diperhatikan di umur seperti ini adalah pengelolaan air. IRRI menjelaskan bahwa sawah umumnya masih perlu dijaga berair sampai sekitar 7–10 hari sebelum panen, dan pengeringan yang terlalu cepat bisa membuat proses pengisian gabah tidak optimal. Jadi, pada fase ini bukan berarti sawah langsung dikeringkan, tetapi air tetap perlu diatur dengan hati-hati agar proses pengisian gabah berjalan optimal.


Hal kedua yang penting adalah pengamatan hama pada fase generatif akhir, terutama walang sangit. Sumber Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa walang sangit menyerang bulir padi mulai dari fase berbunga sampai panen, dan serangan pada fase pengisian hingga menjelang masak bisa menyebabkan gabah hampa, perubahan warna, atau penurunan mutu gabah. Karena itu, walau tanaman terlihat sudah “aman”, pengamatan rutin tetap perlu dilakukan.
Selain itu, fase ini juga sudah masuk masa untuk mengamati kesiapan panen. Pedoman Kementerian Pertanian menyebut bahwa panen umumnya dilakukan saat sekitar 95% malai menguning, sedangkan pedoman lain dari IRRI menyebut pengeringan lahan mulai dilakukan saat gabah bagian atas pada sebagian besar anakan sudah masuk fase hard dough dan mulai berubah dari hijau menjadi kuning. Artinya, pada umur sekarang fokusnya bukan lagi mengejar pertumbuhan vegetatif, tetapi menjaga agar pengisian bulir tuntas, kualitas gabah bagus, dan panen tidak terlalu cepat maupun terlalu terlambat.
Buat kami, padi yang terlihat bagus seperti ini bukan berarti pekerjaan sudah selesai. Justru di fase akhir inilah ketelitian diuji. Air harus diatur dengan tepat, kondisi tanaman tetap dipantau, dan tanda-tanda kematangan perlu diamati dengan sabar. Dalam budidaya padi, kerugian sering terjadi bukan karena salah besar di awal, tetapi karena terlalu cepat lega saat panen sudah terlihat dekat.

Di Zeze Zahra, kami bisa tahu usia padi ini sudah sekitar 87 HST karena proses tanamnya dicatat dan dikelola menggunakan aplikasi Sazara. Jadi bukan sekadar mengandalkan ingatan, tetapi ada pencatatan waktu tanam, umur tanaman, dan proses budidayanya. Jika ingin mengelola penanaman padi dengan model seperti di Zeze Zahra, bisa menggunakan aplikasi Sazara yang tersedia di https://sazara.id