Memulai Pertanian Terpadu : Fokus pada Hal Utama

Mengupayakan proses pertanian terpadu adalah perjalanan panjang. Membutuhkan proses. Apalagi jika godaannya seperti dinyanyikan Nobita-Doraemon : “Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekali…”

Coba saja pada para petani. Kadang menentukan jenis tanaman saja sudah bimbang, mau tanam apa. Mau ternak juga bingung, sebaiknya ternak apa. Kata orang ternak sapi bisa untung, namun saat melihat video atau tulisan, kok kelihatannya ternak kambing lebih menguntungkan. Baru niat ternak kambing, ternyata katanya ternak ayam bisa lebih cepat jadi miliarder dengan harga jual yang lebih murah.

Zeze Zahra juga mengalami model dilema yang sama. Sampai akhirnya kembali pada saran yang disampaikan oleh pak Bayu Diningrat, pakar pertanian sekaligus guru Zeze Zahra, yaitu bahwa mulai dulu dari potensi yang ada.

Potensi Zeze Zahra adalah area persawahan. Berarti fokus ke padi. Karena tanam padi, bisa diintegrasi dengan ternak sapi. Agar sapi makan jerami dan kotoran sapi untuk pupuk padi. Karena ada kebun (lahan darat), bisa ditanami jagung, agar tebon jagung bisa jadi tambahan pakan sapi.

Itu yang pelan-pelan dilakukan oleh Zeze Zahra. Fokusnya dimaksimalkan sampai bisa jadi siklus yang saling terkait dan saling support. Ini juga sesuai dengan model prinsip 50:30:20 dalam manajemen kerja. 50% untuk hal utama, 30% untuk peningkatan dan 20% untuk pengembangan hal baru.

Ada yang sama-sama bingung saat hendak memulai proses pertanian terpadu? Yuk berbagi pengalaman kebingungannya, hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *