Catatan dari Kebun Zeze Zahra : Jangan Menyerah pada Keadaan

Beberapa waktu yang lalu kami membersihkan kebun. Menebangi pohon liar, semak belukar dan menyingkirkan ranting. Setelah itu mengolah lahan agar bisa ditanami.

Setelah ditanami, muncul banjir menggenangi kawasan. Tanaman yang diharapkan menjadi sumber penghasilan dari hasil panen ternyata tidak bisa diharapkan. Semuanya musnah tersapu banjir. Menyisakan tanah becek dan sampah berserakan. Galon berisi urine kambing sampai nyasar ke kebun tetangga terbawa arus air.

Namun, masya iya kita mau langsung menyerah. Kami selalu membesarkan hati. Banjir itu biasanya setahun sekali. Lamanya juga beberapa hari. Paling lama mungkin 2 minggu. Kalau dihitung periode, selama-lamanya adalah 3 bulan.

3 bulan dari setahun artinya 3/12 alias 1/4 waktu. Masya kita menyesali 1/4 waktu dan menyia-nyiakan 3/4 waktu yang tersedia.

Jadi Zeze Zahra kembali lagi membersihkan lahan. Mengolahnya dan kemudian menanami lahan. Memikirkan kombinasi tanaman semusim dengan tanaman tahan air. Membuat parit pembuangan air berikut dengan model penanaman sistem busut untuk tanaman keras.

Kita belajar dari alam. Belajar dari kondisi lingkungan dan dari keterbatasan yang ada.

Apa yang tidak mematikan kita akan mendewasakan kita…

Apakah diantara rekan-rekan ada yang pernah putus asa karena musibah dalam pengelolaan pertaniannya. Siapa tahu bisa saling share kejadiannya dan cara menyiasatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *