Bawang Merah dari Kotak Lahan

default

Bawang merah di kotak lahan penanaman perdana sudah dipanen. Hasilnya memang belum terlalu baik. Apalagi Zeze Zahra juga belum tahu tingkat tua dan tidaknya si bawang, sehingga ada yang belum siap panen ikutan dipanen juga. Yang menjadi acuan panen adalah tanggal penanaman, misalnya setelah usia dua bulan penanaman, bawang akan dipanen.

Tanggal penanaman memang tidak selalu bisa menjadi rujukan karena bisa saja ada beberapa bawang merah yang mungkin belum waktunya panen. Bawang merah tersebut merupakan sulaman dari bibit yang mati. Petani yang berpengalaman biasanya menanam secara serempak, sedangkan Zeze Zahra menanam mengikuti naluri, hehehe…

Bawang merah yang dipanen ini menggunakan bibit beli dipasar. Diseleksi ala kadarnya. Tidak dipangkas ujungnya. Pertumbuhan tunasnya agak lama. Ada juga yang mati karena bibit terlalu kecil, kempes atau kategori kurang bagus lainnya.

Karena sebagian sudah kering, sekalian saja semuanya dipanen. Nanti bawang yang belum cukup usia langsung dijadikan bumbu masak. Yang bagus dan ukurannya masuk kriteria bibit akan dipisahkan untuk dikeringkan.

Kadang kita ingin menampilkan hasil yang bagus saja. Apalagi di sosmed. Namun kemarin saya tergugah ucapan pak guru, bapak Bayu Diningrat,

“Tampilkan apa adanya. Bagus jelek ditampilkan. Dihina orang juga tidak apa-apa. Saya juga begitu kok. Ngajar pertanian kok cabenya nggak bagus. Ya tidak apa-apa, nanti belajar agar bisa lebih baik lagi”, kira-kira begitu ucapan pak Bayu di video yang saya dengarkan sewaktu mengantar jemput puteri bungsu.

Itu ucapan seorang mentor, expert dibidang pertanian yang saya anggap sebagai kyai. Kalau pak kyai bilang begitu, masya saya ngeyel πŸ˜†πŸ˜.

Pelan-pelan Zeze Zahra akan memperbaiki prosesnya. Mulai dari persiapan lahan, treatment media tanam, pemilihan bibit, perlakuan awal, pemupukan, perawatan hingga penanganan hama dan penyakit. Jika perlu, ikut pelatihan khusus mengenai budidaya bawang merah. Pada petani dan pihak yang memang sudah expert dibidang ini.

Jalannya berkelok dan mendaki,

Siapa menanti tak pernah kutahu,

Sunyikupun kekal: menjajah diri,

Dan anginpun gelisah menderu

Ah, ingin aku istirahat dari mimpi

Namun selalu kudengar ia menyeru

Tentang jejak di tanah berdebu

Diam-diam aku pun berangkat pergi…

Toto ST Radik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *