Rumah Kabin, Rumah Pertanian

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca buku “The girl with the dragon tatoo”. Buku karangan Stieg Larsson itu bercerita mengenai persahabatan jurnalis Michael Blomkvist dengan seorang hacker perempuan yang memiliki pengalaman hidup beragam-Lisbeth Salander-dalam mengungkap sebuah misteri.

Fokus saya malah bukan soal plot cerita pada buku itu, melainkan pada potongan cerita saat Michael Blomkvist pergi ke rumah kabinnya di akhir pekan, mengisi waktu disana dan kemudian kembali ke aktivitasnya di kota.

Selama di rumah kabinnya, Michael Blomkvist bebas melakukan apa saja. Bisa saja ia seharian membaca buku, bersantai sambil refreshing pikiran. Bisa juga ia berangkat memancing atau barbeque sambil menikmati waktu santai.

Saat itu saya berpikir, “Oh senang juga ya, kalau kita punya rumah kabin seperti itu. Kita bisa main diakhir pekan, melakukan apa saja yang kita sukai kemudian baru menjalani rutinitas keseharian…”

Saya coba search untuk bentuk rumah kabin, ternyata kebanyakan rumah kabin model Amerika, berupa log atau kayu gelondongan. Padahal di Indonesia model rumah kabin seperti itu masih jarang, jadi akhirnya saya memutuskan untuk membangun rumah kayu.

Singkat cerita, saya jadi memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang sebelumnya dilakukan oleh Michael Blomkvist, seperti liburan di akhir pekan, memancing, steamboat atau barbeque hingga menyalurkan hobby saya berupa menanam sayuran dan pohon buah.

Ada kalanya kita memiliki keinginan namun kita sendiri merasa bahwa kita belum cukup pantas untuk memilikinya. Hal ini kadang menghalangi gerak kita, menyimpannya dalam hati dan kemudian menyesali hal tersebut dikelak kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *