Pengalaman Merencanakan dan Melakukan Pekerjaan Pengelolaan Kebun

Zeze Zahra memiliki kebun yang ditanami pisang dan mangga, namun selama ini dibiarkan tumbuh apa adanya. Ada perawatan namun dilakukan sesekali saja sambil lalu. Karena mangga sudah mulai menghasilkan, lahan ini mulai digarap lebih serius.

Awalnya saya melakukan pekerjaan berdasarkan naluri. Misalnya pertama mencari tenaga kerja tetap agar bisa rutin melakukan perawatan. Karena butuh tenaga tetap, otomatis perlu membuatkan rumah untuk tempat tinggal. Karena sudah ada saung, akhirnya saung itu yang dijadikan sebagai tempat tinggal dengan melakukan renovasi berupa mengganti kayu yang lapuk dan menambahkan kamar.

Karena lahan di depan saung banyak pohon pisang yang kurang produktif, pohon pisang itu dibersihkan dan lahannya diratakan. Di pikiran berkecamuk berbagai hal yang harus dilakukan. Mulai dari pembersihan lahan, pemeriksaan pohon mangga, pemupukan, pembuatan pagar, pelihara ternak, pelihara cacing dan lain sebagainya. Padahal biaya terbatas dan tenaga kerja hanya satu orang.

Akhirnya, saya membuat perencanaan agar prosesnya bisa lebih terstruktur, biaya bisa diperkirakan dan ada target pencapaia

Awalnya saya mencatat pekerjaan apa saja yang perlu dilakukan. Saya menggunakan aplikasi yang biasa dipakai di tempat kerja. Sebenarnya bisa pakai apa saja, misalnya mencatat pakai buku notes, mencatat di Notepad, mencatat di memo dan lain-lain.

Daripada berdasarkan ingatan, list pekerjaan dituliskan agar bisa disusun skala prioritas dan rencana pengerjaannya.

Kemudian saya tanya pada AI mengenai analisa pekerjaan yang perlu dilakukan dan penilaiannya. Sebenarnya bisa tanya pada mentor atau rekan lain yang sudah berpengalaman, hanya saja cari orang dan waktu yang tepat butuh proses. Kalau pakai AI bisa langsung tanya kapan saja dan bahkan bisa lewat HP.

Hasil analisa itu kemudian saya tambahkan informasi pembelajaran dari pak Bayu di BSM/PTS, yaitu mengenai pendapatan harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Dari sini bisa disummarykan apa saja yang perlu diperhatikan dengan memperhatikan saran best practise dari ilmu pak Bayu.

Jadi AI hanya alat bantu saja, untuk analisa tambahan agar bisa inline dengan pembelajaran yang didapat sebelumnya dan dengan memperhatikan situasi yang kita hadapi/lahan yang dimiliki.

Hasilnya kemudian dijadikan semacam “proyek” pekerjaan yang membuat listing apa saja yang perlu dilakukan berikut dengan urutan dan skala prioritasnya.

List ini bukan harga mati, masih bisa ditambah atau dikurangi dengan menyesuaikan pada anggaran biaya, tenaga maupun tujuan yang ingin dicapai.

Diatas saya menulis soal penggunaan AI, tools maupun alat bantu lainnya. Itu sebenarnya bukan hal mutlak, kita cukup gunakan apa yang ada, sesuai pengajaran yang diberikan oleh pak Bayu juga.

Point utama adalah, tidak ada salahnya kita merencanakan, agar bisa memperkirakan hasil maupun kendala yang mungkin terjadi. Mungkin saja tidak sesuai harapan, namun minimal sudah ada usaha yang terbaik.

Dalam salah satu video Youtube, pak Bayu pernah bercerita, saat ditegur oleh professor, “Jadi petani kok pegang HP melulu…”. Mungkin terlalu banyak menulis atau merencanakan ini bisa jadi contoh yang mirip, hehehe…

Fokus jadi petani ya memang harus di pertaniannya. Catatan ini sebagai share pengalaman mengenai perencanaan saja. Jangan sampai kita asyik mencatat dan merencanakan malah lupa melakukan pekerjaannya. 🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *