Musim tanam kali ini, sebagian petak-petak sawah diganggu hama tikus. Gangguannya sangat massif sehingga sebagian tanaman perlu dipruning. Untungnya, meski gangguan cukup massif, padi masih bisa tumbuh kembali dan bisa dipanen, meski hasil panen jadi berkurang.
Ada juga sawah yang diganggu hama tikus saat sudah mulai keluar malai. Untuk tanaman seperti ini, penurunan hasil panen sangat terasa karena hanya sisa anakan padi yang masih mengeluarkan malai. Yang sudah terlanjur keluar malai dan diganggu tikus sudah tidak bisa lagi tumbuh dan tidak bisa diharapkan hasil panennya.
Itu baru satu jenis hama. Belum lagi hama sundep, ulat, wereng hingga burung. Ada juga masalah pengairan atau jika tiba-tiba turun hujan disiang hari saat cuaca panas. Biasanya padi jadi tidak berisi karena anomali tersebut berpengaruh juga.

Kelihatannya menanam padi hanya satu siklus beberapa bulan, bisa bersantai setelah tandur. Kenyataannya butuh lika-liku ditiap prosesnya.
Kalau kita tahu perjuangan itu, kita jadi lebih menghargai nasi (dan bahan makanan lainnya). Butuh perjuangan agar bahan makanan tersebut sampai ke kita dan kita selayaknya mengapresiasinya. Jangan sampai boros atau malah membuang makanan tanpa sebab yang bisa kita pertanggungjawabkan.