Menghapal Al Quran, Memperkuat Ingatan, Memudahkan Pembelajaran

Sekitar tahun 2022, saya memutuskan untuk mengambil kuliah lanjutan pada program Master of Science in Information Technology (MSIT) di President University. Ini keputusan agak riskan sebenarnya, karena saya sudah lama selesai kuliah, lebih fokus membangun usaha dan ditambah lagi perkuliahannya disampaikan full dalam bahasa Inggris.

Saat itu saya tidak tahu apakah bisa mengikutinya atau tidak, jadi saya bilang pada puteri bungsu saya Vivian : “Kalau nanti satu kelas ada 30 orang, mudah-mudahan saya bukan peringkat nomor 30. Yaaah, nomor 20-25 nggak apa-apa”.

Itu adalah ucapan jaga-jaga supaya saya nggak malu pada puteri bungsu sendiri, hehehe…

Berbarengan dengan kuliah tersebut, puteri bungsu saya mulai bersekolah di daerah Summarecon Bekasi. Setiap hari saya mengantar dan menjemputnya. Summarecon adalah daerah yang kerap macet, apalagi saat pagi hari. Jika saya mengantar Vivian ke sekolah jam 6.30, maka akan butuh waktu lama sampai saya bisa ke markas Excellent tempat saya bekerja, karena jalurnya macet sekali.

Jadi, daripada saya bermacet-macetan tanpa hasil, saya menunggu di parkiran sampai macetnya reda. Setelah beberapa lama, daripada menunggu di parkiran, lebih baik saya menunggu di masjid. Jadi saya masuk ke masjid, shalat dan berdiam beberapa lama di masjid.

Diam menunggu di masjid, saya tergerak untuk menghapal beberapa surat pendek. Pertimbangannya sederhana : saya malu pada diri sendiri kalau setiap shalat selalu membaca surat itu-itu saja. Minimal kalau bisa membaca surat lain, shalat saya bisa lebih konsen karena saya menghapal yang baru.

Karena tahu diri, saya menghapal beberapa ayat saja per hari. Kalau saya ukur, sanggupnya 2 ayat per hari, jadi ya itu yang saya jalani. Pagi saya mulai hapalan, siang saat istirahat saya mengulang dan sore/malam saya mengulang lagi.

Ternyata, hapalan 2 ayat itu lama-lama sampai hapal juzz 30. Padahal saya awalnya berpikir sepertinya akan sulit menghapal surat-surat yang cukup panjang di juzz 30, seperti An Naba, An Naaziat dan lain-lain.

Apakah hanya itu saja? Nah ini pengalaman menariknya. Kebiasaan menghapal itu ternyata memiliki efek kemudahan dalam mencerna pembelajaran saat kuliah. Saya bisa mengikuti kuliah yang bagi saya rasanya cukup rumit terkait Machine Learning, Business Intelligence, IT Forensics, Ubiquitous Computing dan lain-lain.

Saya bahkan terdorong untuk belajar berbagai bahasa. Bukan hanya bahasa Inggris sesuai yang dibutuhkan di perkuliahan, namun juga belajar bahasa Arab, Jepang, Jerman, Italia dan Mandarin. Meski memang pembelajaran bahasa itu masih tahap-tahap dasar.

Akhirnya, saya bisa lulus kuliah program MSIT tepat waktu sekaligus bisa memenuhi janji saya pada puteri bungsu : tidak bikin malu karena bisa lulus sesuai harapan.

Saya jadi ingat kutipan hadits nabi yang pernah disampaikan oleh salah seorang rekan :

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Hal kecil dan sederhana yang dilakukan untuk mengisi waktu ternyata membuka jalan bagi saya untuk kemudian melanjutkan belajar lebih jauh. Mengambil kuliah lanjutan dibidang manajemen, belajar pertanian terpadu, mengembangkan Zeze Zahra dan belajar berbagai hal baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *