Menempuh Pendidikan Ditengah Keterbatasan

Saat lulus SMA di tahun 1995, saya bercita-cita ingin kuliah. Pilihan pertama saya Teknik Informatika ITB dan pilihan kedua adalah Ilmu Komputer UI. Selain kedua pilihan UMPTN tersebut, saya juga mencoba mengikuti seleksi di STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, sekarang IPDN). Semuanya gagal dan saya harus menyadari kemampuan, keterbatasan dan kenyataan hidup.

Akhirnya saya bekerja di pabrik, menjadi karyawan di pabrik pembuatan baut (T-Nut) di kawasan industri Jababeka di Cikarang, Bekasi. Saya harus mengubur impian saya untuk bisa bekerja dengan posisi elite melalui jalur kuliah.

Setahun bekerja di pabrik, saya memberanikan diri kuliah sambil kerja. Jurusan yang saya tempuh adalah Diploma 3 Manajemen Informatika. Tantangan kuliah sambil kerja ini tidak ringan, karena pekerjaan saya shift. Otomatis kuliah juga harus shift. Tidak banyak kampus yang membolehkan model mahasiswa-karyawan shift seperti ini dan saya beruntung karena Universitas Bani Saleh Bekasi menjadi salah satu dari yang sedikit itu.

Berbekal ilmu dari kuliah, saya melamar bekerja sebagai staff IT dan diterima bekerja di sebuah perusahaan manufaktur di kawasan Delta Silicon, Cikarang, Bekasi. Disini saya mengembangkan ilmu yang dipelajari dengan membuat sistem aplikasi sekaligus mengembangkan ilmu dibidang Linux.

Tahun 2006, saya pindah bekerja menjadi supervisor IT ke sebuah perusahaan logistik di kawasan Tanjung Priok. Sambil bekerja, setahun kemudian saya berusaha melanjutkan kuliah saya agar bisa mendapatkan gelar S1. Meski tinggal menempuh waktu 2 tahun, saya mandeg saat pembuatan skripsi dan terpaksa mengubur cita-cita saya ingin mendapatkan gelar sarjana S1.

Tahun 2010 saya resign dari pekerjaan dan merintis usaha dibidang IT. Berjuang dari awalnya sendiri, kemudian berdua, kemudian berempat hingga berkembang menjadi belasan dan terus bertambah hingga saat ini.

Menjelang tahun 2020 saya memberanikan diri melanjutkan pendidikan S1 yang tertunda. Saya berusaha keras agar bisa mengatasi perasaan malas, perasaan sudah lewat waktu, perasaan ingin menunda dan berbagai hambatan lainnya. Akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah tersebut dan mendapatkan gelas S1 Teknik Informatika di tahun 2022.

Karena semangat kuliah masih menggebu, saya memberanikan diri lagi untuk melanjutkan kuliah. Saya memilih kuliah di program S2 Master of Science in Information Technology (MSIT) di President University. Ini sebenarnya langkah nekat karena kuliah diadakan full bahasa Inggris dan bahasa Inggris saya masih cap cip cup kembang kuncup. Tapi saya pikir, “Apa yang tidak mematikan kita akan mendewasakan kita”, jadi saya berusaha menjalaninya sebaik mungkin.

Saya lulus dari program ini, alhamdulillah dengan posisi peringkat pertama, meski saya sendiri awalnya ragu apakah saya bisa menjalaninya atau tidak.

Karena semangat masih ada, akhirnya saya mengambil program S2 kedua, yaitu program Magister Management Technology (MMTech) di kampus yang sama dan lulus tepat waktu. Kombinasi antara mata kuliah IT dan manajemen di kampus ini memberikan wawasan yang menarik, apalagi karena ada kesempatan juga untuk mengikuti program Executive Immersion Program dengan kuliah singkat di TUM (Technical University of Munich) Asia di Singapura.

Selepas kuliah kedua, saya bimbang apakah melanjutkan kuliah lagi atau mengambil jurusan lain. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya memilih passion saya untuk belajar dibidang pertanian. Saya mengikuti pelatihan pertanian terpadu selama dua hari di BSM Center Lembah Kamulyan, Telomoyo Magelang dan pelatihan pertanian terpadu lima hari di BSM Center Sumber Waras, Banyuwangi. Selepas lebaran kemarin, saya juga mengikuti pelatihan budidaya bawang merah di Brebes.

Saya bukan orang yang suka menuliskan hal seperti ini di sosial media, karena terkesan seperti bangga pada diri sendiri. Ini saya tuliskan lebih sebagai pengalaman, mungkin ada rekan-rekan yang mengalami dilema keterbatasan. Saya tidak pernah bermimpi kuliah, apalagi keluar negeri. Bapak saya sekolah sampai SD dan ibu saya tidak bersekolah, namun mereka mendorong saya untuk mau berusaha dan berjuang. Tulisan ini adalah bagian dari penghormatan saya pada kedua orang tua, keluarga dan para guru maupun dosen yang sudah berjasa dalam perjalanan hidup saya.

Jika kita saat ini merasa terpuruk, atau terpaksa mengubur cita-cita karena keterbatasan, janganlah berputus asa. Kita tidak pernah tahu jalan hidup mana yang akan kita tempuh. Tugas kita adalah menjalani proses itu sebaik-baiknya.

No retreat no surrender. Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Catatan : Ini adalah tulisan kedua dari seri “Menjalani Takdir dan Menghubungkan Titik-Titik Perjalanan Hidup”. Tulisan pertama ada disini : https://www.facebook.com/share/p/16Ce1AQZ5F/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *