Salah satu hama pengganggu padi di sawah adalah tikus. Upaya preventif untuk mengatasinya di lingkungan Zeze Zahra adalah melakukan penanganan hama terpadu. Misalnya penggunaan fermentasi gadung dan sambiloto sesuai yang diajarkan dalam pelatihan Petani Teman Sejati (PTS) pak Bayu Diningrat.
Upaya berikutnya adalah dengan memberantas sarang dan semak-semak yang menjadi area tikus berkembang biak. Kemudian penerapan mekanisme Trap Barrier System (TBS) yang ditulis pada posting sebelumnya.
Upaya lain sesuai rekomendasi dari PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) adalah membuat Rubuha. Rubuha adalah singkatan dari Rumah Burung Hantu, sebuah sarang buatan yang dipasang di lahan pertanian untuk menarik burung hantu (khususnya Tyto alba atau Serak Jawa) sebagai predator alami hama tikus, sehingga membantu mengendalikan populasi tikus secara ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan pestisida kimia.


Rubuha bisa menjadi tempat berlindung bagi burung hantu, sehingga mereka bisa berkembang biak dan menjadi predator alami bagi hama seperti tikus, kumbang dan serangga pengganggu tanaman lainnya.
Saat ini Zeze Zahra baru membuat enam buah rubuha. Nantinya akan ditambah, bekerja sama dengan petani lain yang tergabung di dalam Poktan (Kelompok Pertanian) dan diselaraskan dengan program kerja BPP (Balai Penyuluh Pertanian).
Bagi yang hendak membuat rubuha, berikut adalah beberapa catatannya:
1. Bahan: Umumnya dari papan kayu atau triplek, dicat warna gelap, dengan lubang masuk menghadap selatan untuk menghindari sinar matahari langsung.
2. Ukuran: Bervariasi, namun dirancang nyaman untuk burung hantu, dengan lubang masuk dan pintu inspeksi.
3. Lokasi: Dipasang di tiang tinggi (3-6 meter), di dekat pohon besar, jauh dari cahaya, dan idealnya mencakup 1-5 hektar sawah per unit.

Kami juga akan membuat tiang kayu untuk burung hantu bertengger dan mengawasi area sawah.
Semua upaya ini dikombinasikan dengan upaya lain yang harapannya bisa mengurangi hama secara alami.