Seri Tulisan Zeze Zahra : Pengalaman Mencari dan Merekrut Pekerja Kebun – Bagian 2

Adakalanya kita ingin bertani dan menerapkan ilmu yang dipelajari dari pelatihan maupun dari sumber lain namun terkendala waktu dan tenaga. Sebagian dari kita masih beraktivitas dan menjalani pekerjaan lain. Pilihan yang paling mungkin adalah mempekerjakan orang lain. Namun mencari SDM yang tepat dan sesuai bukanlah hal yang mudah.

Ini adalah cerita bagian kedua pengalaman Zeze Zahra saat mencari dan merekrut pekerja kebun. Cerita bagian pertama bisa dibaca di posting kemarin ya, di page Zeze Zahra ini : https://www.facebook.com/share/p/1BGwXfe7PP/

***

Pembahasan kemudian soal gaji. Saya menawarkan gaji bulanan, supaya lebih mudah pengaturannya. Karena keterbatasan budget, saya sampaikan skema gaji adalah gaji tetap ditambah dengan bagi hasil. Anggaplah gaji tetap 2 juta rupiah ditambah dengan bagi hasil dari hasil kebun yang akan dikelola.

Gaji tetap ini terhitung minim dan masih dibawah UMR regional. Namun kami memberikan dukungan berupa tempat tinggal, sembako, peralatan masak dan lain-lain. Jadi meski minim namun masih feasible (memadai) untuk hidup sehari-hari.

Untuk tahap awal, ia diserahi tugas mengurus kebun mangga dan pekarangan depan saung. Kebun mangga sebagai penghasilan utama, pekarangan sebagai penghasilan harian. Yang lebih penting adalah memberikan penjelasan mengenai skema pekerjaan, mindset (pemikiran) pengelolaan lahan, rencana integrasi pertanian dan peternakan serta tantangan yang akan dihadapi.

Kami posisinya menawarkan, jadi memang bisa saja tidak diterima oleh yang bersangkutan. Dalam konteks ini, ia menerima penjelasan dan tawaran kami dan akhirnya mulai bekerja mengurus dan menata kebun.

Merekrut karyawan, apalagi membuatkan rumah memang membutuhkan biaya. Ini memang konsekuensi logis jika kita ingin mengelola pertanian dan peternakan namun tidak bisa terjun langsung setiap hari di lokasi.

Pengalaman kami di Zeze Zahra mungkin mirip dengan banyak rekan-rekan. Mau merekrut karyawan, khawatir tidak bisa membayar gajinya dari penghasilan pertanian itu sendiri. Mau dikerjakan sendiri, waktu dan tenaga tidak memadai.

Jika kita terkendala biaya, pilihannya adalah mulai dari yang ada. Mulai dari Keyhole atau lahan kecil. Digunakan sebagai pembelajaran sekaligus penghasilan awal.

Jika kita terkendala waktu dan tenaga namun punya budget, sebaiknya rekrut pekerja. Kalkulasikan biaya berdasarkan tingkat rata-rata UMR, status pekerja (menikah atau single) dan cakupan pekerjaan.

Dulu kami mulai dari tenaga lepas. Pekerjaan dilakukan secara sambilan karena kami tidak mampu menggaji dalam jumlah yang memadai. Ia sesekali datang ke kebun dan melakukan perawatan.

Terus terang, hal ini tidak berjalan sesuai rencana. Namanya sambilan, kadang berjalan kadang tidak. Pekerja tidak fokus pada pekerjaannya. Pohon mangga banyak yang mati kena ulat kayu, rumput dan semak belukar tumbuh tinggi, pagar rusak dan tanaman tidak mendapatkan pupuk maupun perawatan secara berkala.

Setelah beberapa waktu, hasil evaluasinya kurang bagus. Akhirnya kami menggunakan pendekatan berbeda. Kami merekrut pekerja dengan gaji bulanan. Ia full time bekerja, sekalian kami buatkan rumah di area kebun.

Tidak mudah mencari seseorang yang mau bekerja full dan sekaligus tinggal di kebun. Kami juga tidak langsung dapat. Meski sulit, namun tetap mungkin mendapatkannya.

Karena ia full bekerja dan tinggal di kebun, kita bisa menerapkan rencana kita sesuai pembelajaran dan pengetahuan yang kita miliki. Kita bisa mengarahkannya untuk melakukan pekerjaan sesuai tahapan. Kita jadi seperti manajer yang mengarahkan karyawan untuk melakukan pekerjaan sesuai rencana yang kita siapkan.

Karena sudah mengikuti pelatihan, biasanya ada banyak rencana yang berkecamuk di pikiran kita. Rencana itu bisa kita susun dan menjalankannya secara bertahap. Misalnya untuk pengelolaan kebun, kita mulai dari tahap pembersihan, pembuatan pagar, penanaman bibit, membuat bedengan sayur untuk penghasilana harian, persiapan integrasi dengan ternak dan seterusnya.

Pendekatan ini memang butuh biaya. Namun bisa dipertimbangkan jika kendala kita ada di waktu dan tenaga namun kita memiliki budget biaya. Apalagi jika kita masih bekerja di tempat lain, ya mau tidak mau harus ada orang lain yang mengelola.

Zeze Zahra sangat terbantu oleh aplikasi Sazara : https://sazara.id. Aplikasi ini memang kami buat berdasarkan pengalaman langsung sebagai petani. Jadi kami bisa definisikan SOP, rencana tanam, schedule waktu pemeliharaan dan lain-lain.

Misalnya untuk penanaman jagung di kebun, kami sudah punya SOP. SOP itu digunakan untuk rencana penanaman. Aplikasi Sazara bisa memberitahukan pada kami, kapan waktunya menanam benih, melakukan pemupukan pertama, pencegahan hama dan lain-lain.

Pekerja tinggal mengikuti jadwal dan panduan tersebut. Tiap pagi tugasnya dikirim melalui group Telegram. Tiap sore mereka laporan dan saya mengecek laporan serta mereview progressnya.

Jika memang kendalanya ada di modal/budget untuk merekrut karyawan atau menjalankan mekanismenya, ya berarti mau tidak mau harus dikerjakan sendiri. Tulisan ini mungkin lebih pas bagi yang situasinya mirip.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *