Saat Zeze Zahra menulis mengenai progress pembuatan rumah di tepi sawah beberapa waktu yang lalu, ada beberapa komentar yang skeptis. Misalnya komentar bahwa paling juga tahan sebulan saja tinggal di rumah pinggiran sawah, karena ada ular, nyamuk, kadal dan lain-lain. Ada juga yang bilang bahwa rumah seperti itu rawan petir.
Ya namanya sosial media ya, orang komentar apa saja bebas saja. Namun disisi lain, bebas juga kalau misalnya komentar itu nggak ditanggapi, hehehe…
Foto progress pembangunan itu adalah foto beberapa waktu yang lampau. Rumahnya sudah jadi dan sudah ditempati sejak 3 tahun yang lalu. Artinya, daripada saya berdebat soal tahan atau tidak tinggal disitu selama sebulan, saya cukup bilang bahwa saya sudah menempatinya sejak 3 tahun yang lalu.
Memang sih ini bukan rumah yang saat ini menjadi tempat tinggal sehari-hari. Saya masih beraktivitas kerja di Bekasi. Namun ini memang rumah yang direncanakan sebagai tempat tinggal.
Kadang kita maju mundur mendengar komentar atau tanggapan orang lain. Memperhatikan saran dan masukan memang bagus, namun kalau kita juga punya pertimbangan ya tidak apa-apa dijalankan. Kalau bagus, kita sudah memvalidasinya, kalau tidak bagus ya berarti kita ngeyel, hehehe…
Rumah tepian sawah ini impian saya sejak lama. Karena saya senang beraktivitas di alam, jadi ketemu kodok atau ular atau kadal ya sudah biasa. Rasanya damai sekali jika beraktivitas seharian disini, disuguhi pemandangan sawah dan sunrise pada pagi hari serta sunset pada sore hari.
Ini bukan soal tanggapan orang lain. Ini soal upaya kita merealisasikan apa yang bagus dan menyenangkan menurut kita. Prosesnya butuh waktu, iya. Butuh pengorbanan tidak jajan dan berpuasa, iya. Tapi itu terbayarkan saat kita mendapatkannya.
Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.