Saat Zeze Zahra pertama kali memelihara kambing, waktu itu tidak paham mengenai kebutuhan integrasi antara pertanian dengan peternakan. Saat itu pertimbangannya sederhana : setelah padi ditanam, biasanya petani cukup santai. Kegiatannya lebih banyak merawat sawah. Supaya ada tambahan penghasilan, akhirnya dibelikan kambing beberapa ekor.
Mulainya dari sekitar 5 ekor. Setelah beberapa lama, ada anakan kambing dari indukan yang ada. Dari 5 ekor menjadi 7 ekor, kemudian 8 ekor, kemudian 10 ekor dan berkembang hingga menjadi puluhan ekor. Bagi petani, kambing ini adalah tabungan yang berharga diluar pendapatan bagi hasil dari sawah.
Kambing-kambing itu pemeliharaannya menggunakan sistem bagi hasil. Saat kambing dijual, hasilnya dibagi dua, antara Zeze Zahra dengan petani yang memelihara. Selain dijual ke pihak lain, kadang Zeze Zahra sendiri membelinya untuk keperluan hari raya Idul Adha.


Setelah belajar integrasi pertanian, Zeze Zahra mendayagunakan kotoran kambing (kohe kambing) dan urine kambing untuk bahan pupuk organik. Sebagian lagi digunakan untuk media pemeliharaan cacing.
Sebelumnya Zeze Zahra menanam rumput odot untuk pakan. Setelah belajar integrasi pertanian, bertahap Zeze Zahra menanam jagung manis dan tanaman pagar untuk keperluan pakan.
Apa yang awalnya terkesan terpisah-pisah ternyata ada proses keterhubungannya. Connecting the dot, menghubungkan titik-titik simpul.