Catatan dari Kebun Zeze Zahra : Jangan Patah Oleh Keadaan

Zeze Zahra punya kebun di Karawang yang sering mendapat limpahan air kali Citarum. Awal tahun ini, lahan ini kebanjiran 3x sampai beberapa pohon mangga mati. Kalau melihat kondisi saat itu, rasanya sudah hopeless. Sudah putus harapan.

Namun saya pikir, apa yang tidak mematikan kita akan mendewasakan kita. Tsaaaah.

Saya pikir, kebanjiran kan nggak sepanjang tahun. Paling lama 3 bulan dalam 1 tahun. Itu artinya hanya 3/12 alias 1/4 dari waktu sepanjang tahun. Masya Zeze Zahra harus patah oleh 1/4 bagian padahal masih punya 3/4 bagian waktu dalam satu tahun.

Setelah banjir reda, kami kembali mengolah lahan. Setelah lahan diolah, kami kemudian menanaminya dengan jagung dan kacang hijau. Pemilihan tanaman ini karena memanfaatkan jenis tanaman usia pendek agar bisa menghasilkan. Ditambah lagi masih ada hujan pada awal-awal musim tanam.

Siang ini saya kembali mengecek kebun. Perubahannya cukup drastis. Lahan yang tadinya tergenang parah sudah menghijau. Sudah ada harapan agar kebun ini bisa memberikan hasil.

Sama seperti halnya rekan-rekan yang lain yang mungkin dalam proses berjuang. Dalam banyak pengalaman, kita sangat mungkin menemui hambatan. Hal tersebut yang akan membuat kita belajar mengatasinya. Jadi jangan patah oleh keadaan.

Dari bang Toto ST Radik :

Jalannya berkelok dan mendaki,

Siapa menanti tak pernah kutahu,

Sunyikupun kekal menjajah diri,

Dan anginpun gelisah menderu.

Ah, ingin ku istirahat dari mimpi,

Namun selalu kudengar ia menyeru

Tentang jejak di tanah berdebu

Diam-diam aku pun berangkat pergi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *