Kemarin saya menitip beli buah pear untuk dijadikan sebagai buah potong, tambahan bekal makanan untuk Zahra saat berangkat sekolah. Buah pear tersebut dibeli di toko buah premium terkenal.
Saat buahnya datang, kok rasanya bau aneh. Jadi baunya seperti bau obat dan menyengat. Saya membuka plastik pembungkus kemudian mencuci buah itu, namun masih ragu untuk mengkonsumsinya. Saya saja memakannya, lebih ragu lagi untuk menjadikannya sebagai bekal makan untuk puteri bungsu.
Kebetulan Zeze Zahra belum menanam buah pear. Hanya saja, pengalaman itu menjadi salah satu pengingat bahayanya pengawet yang ada di makanan. Kita tidak tahu jenis pengawet apa yang digunakan. Pertimbangan tersebut juga yang mendasari mengapa Zeze Zahra berusaha menanam sayur dan buah-buahan sendiri.
Untuk pisang misalnya, Zeze Zahra menanam beberapa jenis pisang di kebun. Salah satunya adalah pisang Ambon kuning, seperti yang ada di foto. Pisang Ambon kuning adalah pisang lokal yang rasanya pulen dan bisa kuning sendiri tanpa ada cerita apa-apa. Zeze Zahra menanamnya di pinggir selokan di tepian sawah dan kebun. Pisang tersebut dipanen saat usia tua sehingga bisa matang sendiri tanpa harus ditreatment berlebihan.
Rasa pisangnya juga pulen dan manis, tidak membuat kita jadi “blenger”. Kadang Zeze Zahra malah membiarkannya matang di pohon sehingga lebih enak lagi rasanya.



Kalau bicara realitas, mungkin sulit sekali untuk bisa menyediakan berbagai kebutuhan secara mandiri. Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika kita bisa menyediakannya secara bertahap. Bisa juga saling berbagi dan bekerja sama dengan rekan yang lain sehingga bisa saling melengkapi.