Saat pertama kali bertani, yang saya tanam adalah pisang. Ada beberapa teman yang bertanya, “Mengapa kepikiran menanam pisang? Sudah habis-habisan atau sudah putus asa?”
Lho, apa salahnya menanam pisang? Kan saya memang suka buah pisang. Salah satu buah eksotis. Sampai dijadikan perlambang dalam pernikahan. Filosofinya, pohon pisang itu setia, berbuah sekali kemudian mati. Demikian halnya dengan cinta dalam pernikahan. Tsahelah, ngomongin pisang pagi-pagi jadi nyasar kemana-mana, hehehe…
Ini alasan sebenarnya. Pisang itu bibitnya bisa diambil dari anakan tanaman yang sudah ada. Berbeda dengan padi atau jagung yang sekali dipanen kemudian harus siapkan bibit lagi. Kita relatif tidak butuh biaya untuk penanaman berikutnya.
Satu tandan pisang rata-rata bisa 5-8 sisir, bahkan bisa ada yang lebih dari 10 sisir. Jika satu sisirnya dijual seharga 5 ribu rupiah saja, maka bisa mendapatkan 25 ribu rupiah dari 1 tandan pohon pisang. Dalam beberapa waktu, bisa break even point (BEP) untuk pembelian tanah per meter perseginya.
Apakah semudah itu? Ya nggak mudah-mudah amat. Kan tidak mudah juga menjual pisang, apalagi dalam jumlah banyak. Harganya juga bisa fluktuatif. Meski demikian, menanam pisang tetap bisa menjadi potensi yang menguntungkan daripada lahannya terlantar ditumbuhi alang-alang dan semak belukar.