Pengalaman Bertani Bawang Merah : Hasil Panen dan Manajemen Biaya Produksi

Ada satu pembelajaran yang sangat baik dari pak Bayu Diningrat-salah seorang pakar pertanian terpadu di Indonesia-saat membahas mengenai ternak ayam. Pembelajaran itu terkait penggunaan hasil ternak, pengembangan usaha dan manajemen biaya produksi.

Sebagai contoh misalnya kita ternak ayam 10 ekor+1 (10 ekor betina dan 1 jantan). Dari 10 ekor ayam ada 6 butir setiap hari. Berarti dalam 10 hari ada 60 butir telur. Biasanya ada kecenderungan 60 butir telur itu ditetaskan, supaya usaha ternak kita berkembang lebih pesat. Akibatnya terjebak masalah biaya pakan yang semakin tinggi.

Pak Bayu mengajarkan, seharusnya jangan semua telur ditetaskan. 50% produksi telur seharusnya dijual untuk menutup biaya pakan. Meski mungkin belum bisa 100% menutup biaya pakan, namun bertahap biaya pakan bisa ditutup dari hasil penjualan. Meski pengembangan usaha mungkin lebih lambat namun prosesnya natural dan lebih stabil.

Pola yang sama Zeze terapkan pada penanaman bawang merah. Dari sekitar 200 kg hasil panen pada beberapa bedengan pertama, 30 kg kami sisihkan untuk bibit sedangkan sisanya dijual. Hasil penjualan itu digunakan untuk pengadaan bibit penanaman berikutnya, pemupukan, perawatan dan biaya tenaga kerja. Biaya bibit tetap perlu dialokasikan, karena hasil panen tidak bisa langsung digunakan, harus dikeringkan dulu 2-3 bulan.

Dengan pola ini, biaya secara bertahap dapat ditekan dan ada kesinambungan proses pertanian. Ada unsur kemandirian dan ada upaya memperbaiki proses di tiap tahap agar kualitas hasil dapat ditingkatkan. Pola ini juga bisa diterapkan pada jenis tanaman lain di Zeze Zahra seperti padi, melon, kembang kol dan lain-lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *