Saya pernah bercita-cita memiliki sebuah tempat yang bisa saya datangi di akhir pekan untuk bersantai membaca buku, memancing, bertani dan melakukan berbagai kegiatan yang disukai lainnya. Saya membayangkannya sebagai rumah kabin seperti yang ada di buku bacaan yang pernah saya baca. Kalau di buku Lima Sekawan karangan Enyd Blyton, bisa diibaratkan sebagai pondok musim panas atau pondok di tepi hutan.
Tapi saya ragu, apalah saya ini. Saya bukan orang yang memiliki kelebihan uang. Saya bekerja sebagai staff di perusahaan dan kemudian mengundurkan diri untuk membangun usaha kecil-kecilan. Tapi kemudian saya berpikir lagi, apa yang salah jika saya berusaha merealisasikan cita-cita dan impian saya.



Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sebuah lahan kecil di pinggir sungai di tepian sawah. Lahan itu berupa lahan rawa yang jika diinjak akan amblas. Saya harus membangun jembatan terlebih dahulu. Mengurus ijinnya pada perum Jasa Tirta. Setelah jadi, barulah saya mencicil pengurukan tanah menggunakan mobil bak terbuka (colt).
Setelah pengurukan, barulah saya mulai membuat rumah kabin yang terbuat dari kayu. Saya memesannya pada seorang teman di Palembang. Saya harus menguras tabungan agar bisa mendapatkannya. Tidak apa-apa, saya menghibur diri sendiri. Tabungannya hanya berubah bentuk saja.
Setelah jadi dalam bentuk rumah kabin, saya senang sekali. Meski fasilitas masih terbatas, saya bisa mulai melakukan kegiatan yang saya senangi. Saya bisa mengajak keluarga menanam sayuran dan pohon buah. Memelihara kelinci dan bebek. Membuat kolam ikan dan menyebar benih anakan ikan gurame dan nila.



Foto slide pertama saya ambil bulan April 2021 sedangkan foto slide terakhir diambil pada bulan September 2021. Tidak ada salahnya mencoba merealisasikan cita-cita sepanjang itu baik bagi kita, keluarga maupun orang lain. Prosesnya bisa dilakukan secara bertahap, semampu yang bisa kita lakukan.
Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

