Jika tidak di rumah kabin Zeze Zahra di Karawang, kadang saya beredar di Bekasi atau di Bandung. Di Bekasi dan di Bandung tinggalnya di perumahan, dengan pekarangan relatif terbatas. Biasanya saya berkebun di pekarangan depan atau di atap rumah.
Salah satu masalah utama tinggal di perumahan adalah limbah rumah tangga, misalnya berupa sisa makanan atau sisa sayuran dan buah. Bisa saja sisa makanan tersebut dibuang, namun saya merasa bersalah karena seperti menambah jumlah sampah, padahal masih mungkin bisa dimanfaatkan.
Karena tidak mungkin pelihara ayam untuk memanfaatkan limbah tersebut, saya memilih untuk menjadikannya sebagai kompos. Saya mengambil cara mudah, yaitu membeli compost bag dengan resleting di bagian atas dan dibagian bawah. Dasar compost bag saya isi dengan tanah, kemudian membuang sisa makanan diatasnya, setelah itu menutupnya dengan tanah kembali.






Tiap satu lapisan sampah sisa makanan akan ditutup dengan tanah. Dengan cara begini, tidak ada bau dari sisa makanan karena sudah tertutup tanah. Apalagi bagian atas ditutup juga dengan resleting sehingga aman dari binatang maupun dari bau menyengat.
Untuk mempercepat proses penguraian, sesekali compost ini disiram dengan air cucian beras dan diberi dekomposer seperti POC pembenah tanah, EM4, MOL (Mikroorganisme Lokal) dan lain-lain.
Setelah beberapa bulan, sampah tersebut sudah bercampur menjadi tanah yang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam yang subur.