Di keluarga, kami menerapkan skema piramida gotong royong untuk membantu sesama saudara. Piramida gotong royong ini pertama kali diterapkan saat kami hendak meningkatkan kualitas pendidikan.
Beberapa tahun yang lalu, level pendidikan di keluarga adalah SMA. Bapak saya tidak selesai sekolah SR (Sekolah Rakyat, selevel SD) dan ibu saya malah tidak bersekolah. Kakak perempuan saya hanya sebatas lulus SD. Kakak laki-laki saya sampai SMA. Saya kemudian kuliah D3 sambil bekerja di pabrik.
Saat itu terpikir agar keluarga bisa meningkatkan kualitas pendidikan. Masalahnya, budget kami terbatas dan kami masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup bulanan. Akhirnya menyepakati untuk mendorong adik kami Ackoy dan ching Dewi untuk bisa kuliah S1. Kami urunan biaya agar Ackoy dan ching Dewi bisa kuliah S1 sampai selesai.
Saya masih ingat, untuk biaya kuliah Ackoy 8.5 juta rupiah saja, kami kurang beberapa ratus ribu rupiah, padahal sebagian besar keluarga sudah urunan, sampai-sampai ada yang berhutang agar bisa urunan. Kekurangan tersebut akhirnya bisa dipenuhi dan Ackoy bisa kuliah S1 di Unikom Bandung sampai selesai, meski dalam kondisi prihatin. Ini yang disebut sebagai piramida gotong royong.
Kami menyebutnya piramida gotong royong karena bentuknya memuncak keatas. Tidak apa-apa hanya beberapa orang dari kami yang didorong keatas, namun dengan pondasi pijakan yang kuat dari saudara yang lain. Nantinya yang diatas akan menarik saudaranya yang lain dan secara bertahap semua bisa naik tingkat.
Tahun 2009, kakak perempuan saya meninggal dunia karena DB. Kami dalam kondisi prihatin sekali saat itu, baik saat merawatnya di rumah maupun saat membawanya ke rumah sakit. Keterbatasan biaya dan kurangnya pengetahuan membuat kami tidak bisa secara maksimal memberikan perawatan sampai kemudian kakak perempuan saya berpulang.
Dua kondisi itu yang membuat saya berpikir agar keluarga memiliki cadangan biaya yang dapat digunakan sebagai antisipasi kondisi darurat. Masalahnya, jika pemenuhan kehidupan sehari-hari saja masih perjuangan, bagaimana bisa menyisihkan untuk masa depan. Itu sebabnya, mekanisme ini tidak bisa dijalankan sendiri oleh satu keluarga melainkan harus menggunakan mekanisme piramida gotong royong.
Piramida gotong royong yang kami buat adalah menyisihkan iuran sebesar Rp. 300 ribu rupiah yang ditujukan untuk biaya pendidikan, kesehatan dan pensiun.
Menyisihkan 300 ribu rupiah per keluarga per bulan mungkin relatif kecil. Kami menetapkan angka itu sebagai pijakan awal. Itu juga nilai yang cukup besar, terutama bagi keluarga yang hidupnya pas-pasan. Kami juga menetapkan dana bonus atau matching fund secara temporer yang saat ini diset 50% dari iuran sebagai pendorong semangat.
Angka iuran 300 ribu rupiah ini adalah angka minimal. Boleh lebih namun dana matching tetap sama, tetap 150 ribu rupiah.
300 ribu rupiah per keluarga nilai yang tidak terlalu signifikan, namun jika dikalikan 15 perwakilan keluarga besar, nilainya jadi lumayan jadi 4.5 jt. Apalagi setelah ditambahkan dana bonus 50%, nilai itu menjadi 6.750.000,- dan bahkan bisa lebih karena ada juga anggota keluarga yang iuran lebih dari 300 ribu rupiah.
Target awal dana ini ditujukan sebagai modal dasar untuk dana abadi (endowment fund). Jika angka minimal 6.750.000,- per bulan, dalam 1 tahun nilainya bisa 81 juta rupiah. Sudah mulai bisa generate revenue atau value jika diinvestasikan pada instrumen investasi.

Saat ini ada ketentuan bahwa dana iuran merupakan hak milik sepenuhnya masing-masing keluarga. Jadi tidak ada saling silang penggunaan. Namun dengan dana abadi yang cukup besar, nantinya revenue yang dihasilkan bisa memungkinkan untuk membiayai pendidikan atau kesehatan anggota keluarga yang membutuhkan.
Kami mungkin cukup beruntung karena anggota keluarganya banyak. Saya sendiri 12 bersaudara, jadi keluarga besar. Dulu jadi bahan ejekan dan bully, “Kamu mah sekeluarga bisa bikin kesebelasan, bahkan bisa plus wasit”. Saat itu saya malu dan minder, namun sekarang saya jadi bersyukur, hehehe…