Oleh: Masim “Vavai” Sugianto
Awal tahun 2026, banjir besar melanda. Bukan banjir biasa. Ini luapan Kali Citarum yang datang tanpa ampun. Air naik tinggi, masuk ke kebun sayur Zeze Zahra dan juga kebun tetangga. Semua tanaman sayur habis dalam semalam. Tinggal lumpur dan sampah.
Saya hanya bisa diam. Melihat lahan yang dulu hijau berubah jadi kubangan air dan lumpur. Sempat hilang akal rasanya — bukan hanya sayur yang mati, pohon besar seperti mangga pun ikut tenggelam.

Hari berganti minggu. Air tak juga surut. Sayur-sayuran jelas tidak bisa ditanam lagi. Tanah terlalu basah.
Suatu hari Bang Nipan, petani yang mengurus kebun ini, bilang ke saya: “Pak, mending ini ditanami padi saja. Airnya sudah ada.”
Saya pikir, kenapa tidak? Padi butuh air. Air sedang melimpah. Petani lain juga berpikir yang sama.
Kami tidak perlu pompa. Tidak perlu irigasi. Banjir yang dulu bikin pusing, kini jadi berkah.


Hasilnya di luar dugaan — padi tumbuh subur. Mungkin tanahnya kaya nutrisi dari endapan banjir yang datang berkali-kali.
Sekarang, kalau saya lihat dari atas, ada rasa syukur. Kadang rezeki memang datang dari arah yang tidak kita duga. Lewat musibah sekalipun.


Apa yang Bisa Kita Pelajari?
- Adaptasi — ketika situasi berubah, ubah strategi
- Manfaatkan sumber daya yang ada — air banjir jadi irigasi gratis
- Dengar tim lapangan — ide dari Bang Nipan yang lebih paham kondisi