Hari ini saya ke kebun. Melihat suasana kebun, panen jagung, sekaligus membawa pulang hasil panennya untuk dijual.

Saat masuk ke sela-sela kebun jagung, saya teringat saat awal mula memutuskan untuk menjadikan kebun ini sebagai sumber pendapatan bagi banyak pihak.
Kami mulai membersihkan kebun ini dari semak belukar di akhir tahun lalu. Sempat menanam bawang merah, hasilnya kurang bagus. Kemudian menanam jagung, hasilnya musnah terendam banjir. Mencoba menanam lagi, banjir lagi. Banjirnya sampai hattrick, 3x berturut-turut.

Kapok? Niatnya begitu, tapi sayang kalau kapok. Banjir kan nggak selamanya. Jadi kami tanami lagi dengan jagung manis dan kacang hijau. Awalnya tumbuh kurus, jadi rada malu share di Facebook, heheheโฆ
Karena Zeze Zahra punya ternak, kohe dan urine-nya digunakan sebagai pupuk. Kami juga berupaya merawatnya dengan belajar dari pengalaman, buku maupun dari komunitas.
Proses kali ini alhamdulillah mulus sampai bisa dipanen.

Setelah jagung mendekati usia panen, kami bimbang untuk penjualannya. Ada yang simple, yaitu panen tebas seluruhnya ke tengkulak. Tapi karena lahan relatif tidak terlalu luas dan ada saudara yang bisa menjualkan, akhirnya hasil panen jagung ini kami jual secara eceran.
Kami belajar lagi ilmu marketing eceran hasil pertanian. Prosesnya lumayan cape sejak tanam, merawat hingga panen. Namun cape itu dibarengi rasa senang. Ada bagian hasil panen untuk petani yang merawat, untuk Zeze Zahra dan untuk saudara yang membantu menjualkan. Tiap prosesnya bisa membawa manfaat.
Kadang yang terlihat difoto mungkin mulus-mulus saja, tapi petani tahu bahwa di balik cerita ada proses panjang yang dijalani. Sama seperti pekerjaan lain, ada harapan dan ada tantangan. Tidak apa-apa, karena itu yang membuat hidup kita jadi lebih berharga dan berwarna.
Mungkin rekan-rekan ada yang punya pengalaman mirip โ mulai jadi petani dan sekaligus belajar berjualan? Cerita di komentar ya ๐
Catatan: Tulisan ini saya sadur dari catatan saya di Facebook page Zeze Zahra Excellent Farm.