Dari Generative AI ke Agentic: Catatan Perjalanan Belajar AI

Saya pertama kali kenal ChatGPT pas awal-awal dirilis. Waktu itu masih sibuk ngurusin kuliah S2 dan pemahaman machine learning saya masih terbata-bata. Tapi jujur, waktu pertama kali nyoba, saya langsung terkesima. Saya nggak perlu buka Google dan mencari manual lagi. Tinggal tanya, dapat jawaban.

Ya ampun, sudah semaju ini.

Awalnya coba-coba soal Machine Learning. Dapat jawaban yang lumayan komprehensif. Karena itu sifatnya tutorial dan langkah-langkah, okelah saya anggap ChatGPT pasti bisa jawab. Jadi saya coba search lagi pakai query lain.

Saya tanya soal konsep FIRE — Financial Independence Retire Early — dan tentang apa yang sebaiknya disiapkan jika seseorang dalam usia 40 tahunan ingin bisa pensiun dengan baik dan tanpa menyusahkan orang lain. Lagi-lagi, jawabannya komprehensif.

Dari situ makin penasaran. Kalau bisa jawab pertanyaan seperti itu, apa lagi yang bisa dilakukan?

ChatGPT dan Vivian

Sama putri bungsu saya Vivian, kami pernah minta ChatGPT membuat cerita tentang sebuah rumah di tepi hutan. Kami kasih beberapa arahan, dan ChatGPT bikin cerita dengan alur yang bagus dan natural. Vivian senang, saya juga ikut senang.

Dari situ saya mikir, ini bukan cuma tools IT. Ini alat yang bisa dipakai siapa saja — termasuk anak-anak.

Beralih ke Tools Lain

Pas ChatGPT lagi ramai-ramainya sempat penuh server, saya coba Gemini. Gratisan, lumayan buat tanya-jawab ringan. Tapi untuk urusan coding dan bikin laporan yang agak serius, saya mulai pindah ke Claude. Hasilnya lebih rapih, cocok untuk pekerjaan teknis dan dokumen.

Masing-masing punya kelebihan. Saya jadi punya kebiasaan: tergantung butuhnya apa, saya pilih tools yang paling pas.

Mulai Penasaran dengan Agentic AI

Nah, yang bikin saya makin tertarik selanjutnya adalah agentic AI. Bukan sekedar chatbot yang nunggu ditanya, tapi AI yang bisa merencanakan dan bertindak sendiri. Konsepnya sederhana tapi powerful: kita kasih tujuan, AI yang mikir cara mencapainya.

Saya coba install OpenClaw — platform AI agent open source — dan sambungkan dengan DeepSeek. Setelah itu mulai konekin ke Telegram biar bisa interaksi lewat HP. Mulai dari situ, waktu luang di akhir pekan saya pakai buat belajar dan eksperimen.

Prosesnya Tidak Selalu Mulus

Jujur, perjalanannya tidak selalu mulus. Ada kalanya si agent error, ada kalanya hasilnya ngaco, ada kalanya bingung sendiri kenapa kok tidak jalan. Tapi saya sudah biasa dengan proses seperti ini.

Mulai dari kecil. Ujicoba terbatas. Evaluasi. Perbaiki. Sama seperti dulu waktu belajar Linux di tahun 2004-an. Sama seperti waktu belajar setup server, nyoba-nyoba konfigurasi email, atau waktu pertama kali belajar ngurus sawah dan kebun di Zeze Zahra.

Pola belajarnya sama. Yang berubah hanya tools-nya.

Riding the Technology

Saya pribadi lebih memilih jadi orang yang optimis pada perkembangan teknologi. Bukan berarti menutup mata dari kekurangan. Tapi saya lebih memilih untuk riding the technology — bukan jadi penumpang, apalagi korban.

Suka atau tidak suka, kemajuan jaman akan tetap terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah menyikapinya dengan pikiran terbuka. Kalau perlu, kita naik dan kendalikan sendiri.

Seperti kata Jack Ma, “No matter you love or hate the technology, it’s exist and it’s been here.”

Stay Hungry, Stay Foolish. Tetap Semangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *