Work can Wait

Kalimat diatas jangan dibaca dalam bahasa Sunda, hehehe…

Sewaktu bekerja sebagai supervisor bagian IT di sebuah perusahaan di Cakung Cilincing Jakarta Utara, saya pernah melihat seorang bapak-bapak di depan saya. Dia naik motor yang knalpotnya berasap. Bannya kotor penuh lumpur. Baut plat nomor motornya sudah hilang sebelah, sehingga plat nomor seperti hendak lepas. Sudah “ample-ampleyan…” kalau kata orang Betawi. Jaketnya lusuh, dia penuh keringat di siang panas matahari Jakarta. Kaca helmnya sudah kendor, sehingga tiap dinaikkan keatas akan turun lagi.

Saat melihatnya, saya merasa kasihan namun disisi lain merasa, “Saya tidak mau seperti itu. Bekerja boleh saja, tapi mengapa tidak coba menepi sebentar, berpikir apa yang bisa diperbaiki…”

Kita bisa memilih cara kita bekerja dan cara kita menjalani hidup. Cara kita mencari nafkah tanpa harus lupa bagaimana caranya menikmati hidup. Tsahelah… Keren amat omongannya, hehehe…

Ini memang sekilas pandang saya, namun banyak dari kita yang terlalu keras bekerja sehingga lupa istirahat. Kadang tidak bisa istirahat, karena, “Begini kerja keras saja masih kurang, bagaimana kalau tidak bekerja keras…”.

Bagaimanapun, hidup kita milik kita. Diluar takdir, kita yang memilih jalan hidup kita. Susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *