Banyak dari kita yang menginginkan keadaan ideal, namun tidak menyadari bahwa jarang sekali keadaan ideal itu langsung ada. Bahwa keadaan ideal itu perlu dibentuk dan diupayakan. Sama saja dengan kehidupan, kadang kita melihat kehidupan orang lain kelihatan enak padahal nyatanya belum tentu.
Dalam dunia pertanian, kadang kita mengeluh bahwa kondisi lahan tidak sesuai dengan keinginan. Kita melihat lahan orang lain subur, banyak air dan kelihatan bagus sedangkan lahan yang dimiliki kelihatan tandus, kering, sulit air dan bentuknya tidak beraturan. Lahan orang lain datar sedangkan lahan yang dimiliki miring.
Yang punya lahan di dataran rendah berandai-andai jika punya lahan di dataran tinggi tentu bisa menanam manggis, durian, dan berbagai tanaman dataran tinggi lainnya. Yang sudah punya lahan di dataran tinggi malah mengeluh dan berpikir seandainya punya lahan di dataran rendah.
Keadaan itu adalah keniscayaan. Jika kita memiliki lahan yang tidak ideal, kita yang harus mencari cara menjadikannya ideal. Jika yang dimiliki adalah dataran rendah, punya banyak air dan rentan banjir maka kita bisa mengupayakan pertanian berbasis air banyak, misalnya membuat kolam ikan dan parit-parit air. Kita bisa memilih tanaman yang tahan air, seperti kelapa, padi, talas dan lain-lain.
Demikian sebaliknya jika kita punya lahan dataran tinggi yang konturnya miring atau curam, kita bisa menanam tanaman keras agar bisa menyesuaikan dengan keadaan. Prinsip dasarnya adalah jangan menyesali kondisi yang ada melainkan menerima keadaan kemudian memahami kelebihan dan kekurangan yang ada, baru setelah itu berusaha menyiasati dan mengatasi kesulitannya.
Ada banyak kondisi tak ideal dalam dunia pertanian. Lahan, kekurangan biaya, kekurangan pengetahuan, tidak adanya tenaga kerja, tidak punya lahan dan tidak punya waktu. Hanya kita yang tahu kekurangan dan kelebihan yang dimiliki dan sewajarnya kita yang berusaha mengatasinya.
Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.