Berpikir Realistis dalam Bertani & Beternak?

Zeze Zahra punya saudara yang beternak lele. Ia bisa memijahkan bibit lele. Dari kemampuannya, ia bisa menjual anakan lele berbagai ukuran. Kelihatannya menguntungkan, namun tiap bulan ia harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ada juga teman yang pintar bertani. Tanamannya subur dan hasilnya sering dijual ke pasar ataupun ke tengkulak. Namun kehidupannya juga sama, rata-rata harus berjuang untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Apa masalahnya? Masalahnya adalah penghasilan yang didapatkan tidak dapat memenuhi kebutuhan bulanan. Misalnya kebutuhan bulanan adalah 3 juta rupiah, namun pendapatan (profit) hanya 1.5 juta rupiah, tentu saja tidak bisa menutup kebutuhan bulanan tersebut.

Kadang kita mulai bertani dan beternak dan menggantungkan hidup dari pekerjaan itu namun kurang realistis membuat perhitungannya. Kalau memang usaha yang dijalani selama ini belum bisa secara penuh menutup kebutuhan hidup bulanan, berarti mau tidak mau harus ada penghasilan tambahan dari sumber lain. Hal ini realistis dilakukan, sambil terus berupaya agar penghasilan dari bertani dan beternak meningkat.

Jika awalnya bekerja di perusahaan kemudian langsung banting stir menjadi petani atau peternak, hal ini yang kerap berbahaya bagi pendapatannya. Dari yang awalnya rutin mendapat gaji tiba-tiba menjadi tidak pasti. Cara terbaik memang melakukannya secara gradual atau bertahap.

Misalnya mulai dari skala hobby, sambil tetap menjalani pekerjaan utama. Target awal adalah mengurangi pengeluaran untuk sayuran, buahan, telur, ikan dan ayam dengan memenuhi kebutuhan tersebut dari hasil pertanian dan peternakan. Komposisi ini kemudian terus meningkat, sampai akhirnya pendapatan dari pertanian dan peternakan bisa memenuhi kebutuhan harian dan bulanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *