Lima Tips Penting Memulai Integrasi Pertanian, Peternakan dan Perikanan
Kemarin saya menyimak salah satu video pak Bayu Diningrat-salah seorang pakar pertanian terpadu di Indonesia-yang menjelaskan mengenai peserta pelatihan yang bingung harus mulai dari mana.
Karena ilmu dan pengetahuan yang didapatkan saat pelatihan cukup banyak dan beragam, kadang peserta pelatihan bingung harus mulai dari mana. Berikut adalah beberapa tips penting dari pak Bayu:
1. Mulai dari Masalah yang Ada. Meskipun banyak keinginan yang ingin dijalankan, akan lebih mudah dan lebih tepat guna jika mulai dari masalah yang ada. Jika masalah kita adalah kesehatan, maka tanamlah tanaman obat terlebih dahulu. Misalnya seledri, kenikir, kunyit, temulawak, jahe, salam, sereh dan lain-lain.
Jika masalahnya adalah penghasilan harian, maka fokus dari penanaman sayuran dan produk lain yang perputarannya cepat dan punya nilai jual. Misalnya menanam bayam, kangkung, selada, jagung dan lain-lain alih-alih menanam alpukat, durian dan tanaman keras lainnya. Tanaman keras bisa menyusul setelah kita mengamankan penghasilan harian.
2. Mulai dari yang Kecil. Meski punya tanah luas, lebih baik ujicoba manajemen tanah dalam ukuran terbatas terlebih dahulu. Daripada mulai langsung 1-2 hektar, lebih baik mulai dari 1000 meter. Itu sebabnya ada konsep 1005, yaitu bagaimana menjadikan tanah 1000 meter bisa menghasilkan 5 juta rupiah per bulan dengan mengintegrasikan pertanian, peternakan dan perikanan.
Jika 1000 meter belum ada, bisa mulai dari tanah 100 meter. Jika itupun belum ada, bisa mulai dari 3×3 meter, dalam bentuk keyhole garden atau kebun mini di pekarangan rumah.
3. Mulai dari yang Ada, jangan Mengada-Ada. Jangan memaksakan diri mengeluarkan biaya besar karena menganggap hanya itu satu-satunya solusi. Daripada memaksakan diri menanam rumput khusus untuk ternak misalnya, bisa mulai dari rumput yang ada di kebun.
Ternak ayam bisa dimulai dari 10 ekor. Ternak kambing mulai dari sepasang. Ternak sapi mulai dari 1 ekor. Gunakan pakan ikan dari singkong, dedak dan daun-daunan daripada diawal serba tergantung pelet.
4. Integrasikan Secara Bertahap. Saat memilih pertanian, peternakan dan perikanan, pilih yang bisa terintegrasi. Misalnya tanam jagung karena kita memelihara ayam. Tanam singkong karena kita memelihara ikan. Pelihara cacing karena kita ingin memanfaatkan kotoran hewan dan buah-buahan yang busuk. Buat putaran integrasi yang panjang agar meminimalisir sampah semaksimal mungkin.
5. Semaksimal Mungkin Mandiri. Belajar membuat bahan pembenah tanah, POC (pupuk organik cair), Jakaba, PSB (photosynthetic bacteria), pupuk urea, pupuk NPK, pupuk KCL dan lain-lain agar bisa memanfaatkan yang ada dan tidak terlalu tergantung pada biaya tambahan dan pada pihak eksternal. Pelihara ikan nila yang bisa memijah sendiri, jangan ikan lain yang harus selalu membeli benih dari pihak lain. Pelihara ayam kampung karena ayam kampung bisa mengerami sendiri telurnya.
Semoga bermanfaat dan tetap bersemangat. Salam pagi hari dari Batujaya Karawang ![]()
![]()
