Tips Pertanian : Menyiasati Kesulitan

Beberapa hari belakangan ini hujan turun dengan deras. Sawah dan ladang digenangi air yang berlimpah. Di beberapa tempat mungkin tanamannya terendam banjir. Apa yang kita lakukan mungkin saja jadi kelihatan sia-sia. Padahal hakikatnya tidak.

Adanya tantangan cuaca merupakan keniscayaan. Kadang saat musim kemarau kita kekurangan air dan di musim hujan kita malah kelebihan air. Saat musim kemarau kita capek bekerja di sawah atau kebun karena udara panas, sedangkan saat musim hujan kita sulit bekerja karena hujan atau resiko petir.

Daripada kita sesali apa yang tidak bisa kita ubah lebih baik kita ubah dan melakukan apa yang kita bisa. Saya masih ingat cerita Miyamoto Musashi, samurai Jepang. Meski ahli pedang, ia pernah bertani untuk memahami prinsip-prinsip kehidupan. Ia mengalami kesulitan saat ladangnya musnah tersapu banjir. Padahal dia dan muridnya Iori, sudah bekerja keras sepanjang musim menyiapkan ladangnya.

Musashi sempat putus asa karena beberapa kali gagal, sampai akhirnya iya memetik keberhasilan setelah mempelajari kontur tanah dan berusaha melayani alam, bukan menentangnya.

Cerita itu membekas pada saya tiap kali mengalami kesulitan terkait cuaca, kekurangan air dan banjir. Kebun pisang Zeze Zahra pernah musnah terendam banjir kali Citarum setinggi 2 meter selama dua minggu. Untuk menyiasatinya, saya menanam tanaman musiman dan tanaman yang tahan air. Zeze Zahra ingat pesan pak Bayu Diningrat, “Niatkan pekerjaan bertani sebagai bagian dari ibadah”. Jadi saat terkena musibah sekalipun, nilai ibadahnya tetap ada.

Jika resiko banjir melanda selama tiga bulan, Zeze Zahra masih punya sembilan bulan untuk mendapatkan hasil. Zeze Zahra juga bisa memperhatikan dan belajar bahwa tanaman jambu biji, kelengkeng dan kelapa cukup tahan air.

Jika resiko ketinggian banjirnya hanya tergenang saja, Zeze Zahra membuat kolam-kolam penampungan dan parit. Dengan cara ini, air bisa ditampung saat musim hujan sebagai cadangan pada musim kemarau. Kita belajar menyiasati kesulitan yang kita alami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *