Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ada pesan masuk di WA, mengabari ada paket yang perlu diantarkan. Pengantar paketnya ada di depan rumah.
Yang terpikir oleh saya adalah merasa repot, “Malam amat ya. Ini kebetulan saya belum tidur. Mengapa nggak kirim lebih awal saja…”.
Jadi pikiran awal saya adalah “merasa terganggu”.
Kemudian saya berpikir mengenai kerasnya perjuangan mencari nafkah. Saya mungkin berada pada posisi yang lebih nyaman. Sudah bersantai di rumah, mengetik di depan laptop, mendengarkan musik sambil minum dan makan cemilan. Sementara yang didepan masih harus melaksanakan tugas mengirim paket antaran. Mungkin perlu menembus jalan macet dan area banjir sebelum sampai ke rumah saya.
Alih-alih terganggu, saya jadi malu pada pemikiran awal saya. Saya seharusnya justru mengapresiasi upayanya. Jadi saya langsung beranjak dari ruang kerja, mengambil uang dari meja, kemudian keluar menemui pengantar paket.

Ia memohon maaf karena kirim terlalu malam dan mohon maaf tidak bisa melempar paketnya ke garasi, karena paketnya agak berat dan khawatir malah bikin rusak paketnya.
Saya berterima kasih padanya, kemudian memberikan sekedar uang tip, hitung-hitung ia bisa memberi minuman segar.
Saat saya kembali ke ruang kerja, saya masih berpikir hal tersebut. Mengenai kerja keras dan etos kerja. Mengenai banyak hal yang bisa diapresiasi dan dipelajari.
Sampai saya menulis ini, saya berpikir mungkin saya bisa memberi tip yang lebih banyak. Karena sudah terlanjur, jadi saya mendoakan yang terbaik untuknya.
Doa yang sama saya sampaikan, untuk kita semua yang berjuang mencari nafkah dengan cara yang halal dan elegan.