Menghubungkan Titik-Titik (Connecting the Dots) : Kuliah dan Bisnis

Beberapa tahun lalu saya pernah menonton Commencement Speech Steve Jobs di Stanford University. Salah satu ucapannya adalah soal menghubungkan titik. Connect the dots.

“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future.”

Saat kita memutuskan sesuatu, kadang kita nggak tahu apakah keputusan itu baik atau tidak. Kita bisa mengetahuinya setelah sekian waktu berselang.

Agustus 2023, setelah lulus dari program S2 MSIT di President University, saya memikirkan apa yang harus saya lakukan selain bekerja sebagaimana biasanya. Apakah melanjutkan kuliah ke program S3, atau ambil program S2 lain atau ambil kursus atau sudah duduk santai menjalani hidup 😄. Akhirnya saya memutuskan untuk kuliah lagi, kali ini S2 MM atas beberapa pertimbangan.

September 2023 saya mulai menjalani kuliah. Menjalani rutinitas kuliah tiap malam, kemudian mengerjakan tugas-tugas.

Oktober 2023 saya iseng menanam semangka dan melon di tepi sawah, dekat kolam gurame, di lingkungan rumah kabin Zeze Zahra di Batujaya Karawang. Di bulan yang sama, saya bersama teman-teman membersihkan semak belukar di lahan yang diniatkan menjadi sebuah tempat pemberdayaan masyarakat. Lokasinya juga di Batujaya Karawang.

November 2023 mulai panen semangka dan melon. Ternyata hasilnya bagus. Saya berpikir, mungkin bisa menanam semangka dan melon di lahan yang lebih luas. Pas kebetulan ada mata kuliah Global Operation Management dengan dosen Dr. Adi Saptari. Beliau menjelaskan mengenai contoh pemilihan lokasi pabrik atau kantor dan saya berpikir, metode yang sama bisa saya pergunakan untuk menentukan jenis tanaman yang hendak saya kembangkan. Jika saya menanam sayuran seperti terong, biayanya sekian dan hasilnya sekian. Jika saya menanam pepaya maka hasilnya sekian. Jika saya menanam melon dan semangka hasilnya sekian. Dari situ saya bisa mendapatkan rekomendasi jenis tanaman yang bisa saya kembangkan, bukan hanya berdasarkan intuisi melainkan juga berdasarkan hitungan matematis.

Akhirnya saya memutuskan untuk menanam melon dan semangka, sekaligus membuat greenhouse. Dosen mata kuliah “Startup and Entrepreneurship” Dr. Adhi Setyo mengajarkan mengenai Business Model Canvas dan memberikan tugas mengenai ide startup. Sekalian saja saya gunakan ide usaha pengembangan melon ini sebagai materi tugas kuliah, karena saya bisa belajar sekaligus merealisasikannya.

Bulan Desember dan Januari melonnya sudah mulai panen. Saya jadi ingat mata kuliah Strategic Marketing dengan Prof Jony Oktavian Haryanto, mata kuliah Research Methodology dengan Prof Chairy dan mata kuliah Economic for Business dengan Dr. Anton Wachidin Widjaja dan Dr. Purwanto. Saya belajar bahwa untuk pemasaran dan pengembangan usaha, penting sekali membuat strategi. Saya berusaha melakukan riset, misalnya riset pasar mengenai peluang usaha semangka dan melon, kemudian meninjau aspek-aspek terkait pertanian dan pemasarannya. Salah satu tugas mata kuliah adalah menggunakan social media untuk marketing dan juga membuat strategi pengembangan usaha dengan belajar dari bisnis-bisnis yang sudah mapan. Saya menggunakan kedua tugas ini untuk mencari strategi pengembangan usaha yang paling memungkinkan sekaligus metode pemasaran yang bisa saya lakukan.

Saya masih memikirkan metode pemasaran yang paling tepat saat saya menemukan hal yang unik. Saya ingat mata kuliah Human Capital dengan Maam Maria Jacinta Arquisola, bagaimana mengidentifikasi sumber daya dan memberdayakan mereka. Saya selama ini terlalu fokus pada sumber daya internal yang rajin dan tekun dalam menanam melon, namun sayangnya kurang bisa dalam menjual. Secara tidak sengaja saya menemukan tenaga pemasaran yang kompeten, yaitu adik ipar saya.

Adik ipar saya punya jaringan ibu-ibu rumah tangga baik di sekolah maupun di pergaulan. Secara iseng ia menawarkan pembelian melon dengan mekanisme pilih dan petik sendiri di greenhouse. Metode ini ternyata sangat efektif. Dalam waktu kurang dari satu bulan, semua melon bisa habis terjual. Daripada saya menghabiskan waktu memaksa seseorang berpindah bagian dan berusaha menguasai keahlian tertentu, lebih baik saya mencari orang yang tepat untuk itu dan kemudian mengarahkannya.

Sampai dengan bulan Mei 2024, ada empat greenhouse melon yang sudah dibangun, dengan total jumlah tanaman lebih dari 1500 pohon. Jika diawal saya ditanya, apakah saya yakin bisa menjual melon-melon itu, saya mungkin tidak bisa menjawabnya. Setelah beberapa bulan menjalani proses dan melihat kebelakang, saya jadi bisa menghubungkan titik-titik keputusan dan ternyata satu dengan yang lain saling terkait dan saling terhubung. Saya masih perlu belajar bagaimana mengelola usaha dan mengembangkannya, namun sedikit banyak ada pijakan awal yang bisa saya gunakan untuk melangkah.

Kita tidak pernah tahu masa depan seperti apa, namun jika kita menjalaninya sepenuh hati, kita bisa mendapatkan pembelajaran sekaligus memetik hasil dalam prosesnya. Terima kasih untuk semua dosen program S2 MMTech President University yang sudah memberikan inspirasi dan pembelajaran yang mengiringi semua proses ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *