Memaksimalkan Rasa Syukur
Saya pernah ke Dieng dan menginap disana beberapa hari. Saya diminta bangun pagi jam 3 atau jam 4 pagi. Dieng saat siang saja dingin, apalagi jam 3 pagi. Saya tanya untuk apa bangun jam 3 pagi karena kan belum waktunya shalat Shubuh. Ternyata, untuk melihat sunrise…
Saya juga pernah ke Bromo. Dari hotel berangkat jam 2 pagi. Sampai di area pemberhentian sekitar jam 3-4 pagi. Kemudian harus duduk beberapa jam ditengah udara yang dingin menusuk. Untuk apa? Untuk melihat sunrise.
Kalau bukan karena diminta menemani, saya tidak mau ikutan FOMO (Fear of Missing Out) melihat sunrise. Kadang effortnya tidak sebanding dengan nilai yang ingin dilihat. Apalagi kalau gara-gara melihat sunrise malah kelewat waktu shalat Shubuh.
Di Zeze Zahra, saya nggak perlu mendaki gunung, menaiki jip atau menuruni lembah hanya untuk melihat sunrise. Kalau lagi beruntung, sunrise bisa dilihat sambil berkebun atau memberi makan ikan.
Ini memang kebetulan karena rumah kabin Zeze Zahra ada di pinggir sawah, sehingga bisa melihat matahari terbit dan terbenam tanpa terhalang pandangannya. Ini juga yang selaras dengan judul tulisan ini, yaitu memaksimalkan rasa syukur.
Ada kalanya kita sebagai petani mengeluhkan lahan yang kebanjiran, tanaman yang kena hama atau penyakit dan hasil panen yang kurang memuaskan. Meski hal tersebut patut disesali, namun sebenarnya masih ada banyak benefit yang didapatkan. Udara segar, suara burung berkicau, matahari terbit dan terbenam hingga aktivitas gerak seharian di kebun dan sawah.
Daripada menyesali yang tidak kita miliki, lebih baik kita mengambil sisi positif yang ada. Jika perlu, kita menciptakan rasa syukur itu dalam bentuk memaksimalkan pengelolaan lahan yang dimiliki.
