Zeze Zahra menanam bawang merah di kotak lahan (raised-bed) berukuran 3×1 meter dengan tinggi media tanam 40 cm. Bagian bawah kotak lahan berupa tanah yang dicangkul, kemudian dilapisi ranting kayu, daun kering, bongkahan tanah dan media tanam utama.
Media tanam utama berupa campuran kompos padat (kohe fermentasi dan daun lapuk), abu pembakaran dan tanah. Sebelum digunakan, lapisan ini ditreatment dengan pupuk cair pembenah tanah.
Kemarin mencoba mengukur parameter tanah dari kedua kotak lahan dan mendapatkan hasil seperti dalam tabel (gambar ketiga). Berikut adalah hasil analisanya:
Penilaian Kualitas Tanah:
1. pH:
Ideal pH untuk bawang merah: 5.5 – 6.5
Kedua gambar berada dalam rentang ideal, tapi Gambar 2 (6.1) sedikit lebih netral dan lebih optimal untuk penyerapan unsur hara.
2. Kelembaban (Moisture):
Bawang merah memerlukan kelembaban tanah yang cukup, tapi tidak becek.
56% (Gambar 1) masih aman, tapi 70% (Gambar 2) lebih ideal terutama di musim panas, asal drainase bagus.
3. Suhu (Temperature):
Suhu 30°C masih dalam batas toleransi bawang merah, meskipun suhu idealnya sekitar 25–30°C.
Kesimpulan:
Gambar 2 lebih bagus karena:
1. pH sedikit lebih optimal (6.1).
2. Kelembaban lebih tinggi (70%) yang mendukung pertumbuhan umbi dan daun jika drainasenya baik.
Suhu sama di kedua lokasi, jadi bukan faktor pembeda. Kalau mau hasil optimal, pastikan:
1. Drainase tetap bagus supaya kelembaban tinggi tidak menyebabkan busuk akar.
2. pH dijaga stabil dalam kisaran 5.5–6.5.
Dari perbedaan parameter tanah keduanya yang diisi dengan lapisan yang sama, kemungkinan ada perbedaan pada unsur lapisan media tanam, frekuensi penyiraman dan kemampuan penyerapan air.


Repot amat sih sampai ukur ini itu, perasaan petani bawang tanpa ukur macam-macam hasil panennya tetap bagus…
Yaa kan judulnya belajar menanam bawang merah. Namanya belajar, harus banyak mencatat dan menyerap ilmu ![]()
.