Saya pernah mendengar cerita mengenai “The Story of the Mexican Fisherman”. The Story of the Mexican Fisherman bercerita tentang seorang nelayan sederhana yang hidup damai dengan rutinitas harian, menikmati waktu bersama keluarga dan teman. Seorang pebisnis menyarankan agar ia memperluas usahanya untuk menjadi kaya, hanya agar suatu hari bisa hidup santai seperti sekarang.
Cerita tersebut mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati seringkali sudah kita miliki—kesederhanaan dan keseimbangan hidup lebih berarti daripada kejaran ambisi tanpa akhir.
Cerita sejenis pernah saya baca mengenai kehidupan damai di sebuah pedesaan. Mereka hidup sederhana, sampai kemudian datang pebisnis yang ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Caranya adalah membangun industri disitu, dimana masyarakat bisa bekerja didalamnya dan mendapatkan pendapatan lebih tinggi. Yang terjadi adalah hilangnya kedamaian karena terpacu proses industri.
Kadang saya dilema antara menjadikan Zeze Zahra Excellent Farm sebagai lini bisnis atau tetap sebagai hobby saja. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika dijadikan sebagai lini bisnis, mungkin Zeze Zahra bisa memberikan nilai tambah bagi diri sendiri maupun lingkungan, dengan resiko terjebak putaran usaha terus menerus.
Pilihan lain adalah menjadikan Zeze Zahra Excellent Farm sebagai hobby dengan keuntungan rasa santai dalam menjalani pekerjaan, namun ada resiko biaya operasionalnya tidak tertutup dari penghasilan.
Saat ngobrol dengan bang Indra atau team lain di Zeze Zahra, saya menyampaikan hal tersebut. Langkah yang ditempuh Zeze Zahra adalah berupaya menyeimbangkan keduanya. Rumah kabin Zeze Zahra tetap sebagai menjadi lingkup private dan bagian dari hobby, sedangkan lini bisnis dikembangkan terpisah.
Cara ini lebih relevan untuk situasi saat ini, sehingga dapat mencakup kedua spektrum kebutuhan yang ada. Mungkin saja kedepan ada penyesuaian, baik porsi maupun persentase masing-masing, namun langkah apapun yang ditempuh harus dalam kerangka kebahagiaan tanpa mengorbankan hal esensial.