Dulu saya bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji pas-pasan. Meski pas-pasan, saya berusaha untuk menabung. Sebagian untuk masa depan anak saya dan sebagian untuk tabungan saya dan isteri.
Dari gaji sekitar 3.5-4 juta rupiah saat itu, saya usahakan bisa menabung 1-1.5 juta rupiah per bulan. Apakah mudah? Tentu saja sulit, karena saya harus membayar cicilan rumah yang nilanya sekitar 2.5 juta rupiah per bulan.
Bagaimana caranya bisa ada sisa untuk biaya berangkat dan pulang kerja jika total pengeluaran saja sudah menghabiskan seluruh gaji? Jawabannya adalah memanfaatkan waktu luang saat hari libur.
Saya masih ingat, karena saya senang menulis dan pekerjaan saya dibidang IT, saya menulis artikel untuk majalah Infolinux (cc pak Rusmanto Maryanto) dan saya mendapat honor dari tulisan saya. Karena saya senang menulis, saya membuat blog dan melakukan monetisasi dalam bentuk Google Adsense. Saya menulis review (dulu setiap review bisa mendapat minimal 5$). Saya membuat target pencapaian penghasilan sampingan, misalnya di awal-awal saya berusaha mendapatkan 50-100 ribu rupiah.
Kecil sekali? Memang kecil, karena saya tipikal orang yang realistis. Tidak realistis jika saya langsung berasumsi dapat penghasilan besar dari kegiatan sampingan. Seiring waktu, saya bisa berusaha mendapatkan tambahan dan target itu bisa ditingkatkan.
Saya menulis artikel, membuat review, menulis blog, mengajar training dan freelance mengerjakan setup server. Semua dilakukan disela-sela waktu kerja. Harus aktif dan produktif. Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya. Kalau mau hidup senang ya harus usaha. Nggak bisa manja dan nggak bisa pingin yang mudah terus. Absurd.
Dari penghasilan tambahan itu saya bisa punya ruang gerak. Minimal misalnya untuk menabung saya tidak perlu mengambil dari uang gaji. Untuk membayar biaya internet saya tidak perlu pakai uang gaji. Setelah punya ruang gerak, saya pisahkan pendapatan tambahan menjadi 2 bagian. Sebagian digunakan untuk mengurangi hutang dan sebagian lain digunakan untuk ide usaha.
Misalnya saya tiap bulan mendapat tambahan penghasilan 500 ribu sd 1 juta rupiah, itu saya gunakan untuk menyewa server. Saya bisa membuka layanan managed hosting. Jadi saya bisa membeli 1 buah VPS server yang kemudian saya sewakan ke beberapa orang. Mirip seperti kontrakan namun ini sifatnya online dan terkait IT.
Jadi dari penghasilan tambahan digunakan untuk menghasilkan penghasilan tambahan. Ini yang namanya nest egg. Penghasilan yang bisa menghasilkan.
Bagaimana jika saya bukan orang IT? Apakah bisa punya nest egg? Tetap bisa, karena tinggal disesuaikan saja.
Misalnya saya punya sisa uang 200-300 ribu rupiah dari gaji atau dari penghasilan lainnya. Uang itu saya gunakan untuk membeli ayam pitik atau ayam DOC (Day Old Chicken). Saya besarkan seperti membesarkan anak sendiri (ini mah iklan kecap hehehe). Nantinya ayam itu besar dan bisa menghasilkan daging atau telur.
Bagaimana jika ayamnya mati sebelum besar? Ya usaha menjaga kelangsungan hidup si ayam. Ini yang saya maksud sebagai pembelajaran. Jika gagal usaha ayam, bisa beralih ke usaha lain. Bagaimana jika saya tinggal di kontrakan atau di perumahan? Nggak bisa beternak ayam karena bau dan mengganggu sekitar. Ya beralih. No retreat no surrender. Jangan menyerah. Beternak ayam itu contoh saja. Bisa browsing ke Tokopedia atau Bukalapak. Cari usaha dropshipper. Bisa jadi peluang usaha jualan tanpa modal besar.
Tulisan ini cukup panjang dan belum selesai ![]()
. Dilanjut lagi pada posting hari berikutnya, hehehe…