Day #5 Ramadhan 1447 H : Menghubungkan Titik-Titik dan Memberikan Sumbangsih pada Masyarakat

Menghubungkan Titik-Titik (Connecting the Dots)

Salah satu kalimat Steve Jobs yang saya ingat adalah soal connecting the dots.

“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.”

Steve Jobs pernah mengatakan bahwa dalam hidup, kita tidak bisa menghubungkan titik-titik ke depan; kita hanya bisa melihatnya dengan jelas ketika menoleh ke belakang. Karena itu, kita harus percaya bahwa intuisi, takdir, atau bahkan karma akan menyatukan semuanya di kemudian hari.

Ia juga menekankan pentingnya mengikuti passion. Menurutnya, kita harus mencintai apa yang kita kerjakan. Berani mengambil risiko pada hal-hal yang benar-benar kita minati pada akhirnya akan membuahkan hasil, meskipun pada awalnya terlihat tidak pasti.

Sebagai contoh, setelah keluar dari kuliah, ia mengambil kelas kaligrafi yang tampak tidak berguna secara praktis. Namun sepuluh tahun kemudian, pelajaran itu justru menginspirasi desain tipografi yang indah pada komputer Macintosh. Apa yang terlihat tidak relevan saat itu ternyata menjadi fondasi penting di masa depan.

Steve Jobs juga berbicara tentang titik balik dalam hidup. Ketika ia dipecat dari Apple, peristiwa itu terasa menyakitkan. Tetapi justru dari situ ia memulai kembali sebagai seorang “pemula”, mendirikan NeXT dan Pixar. Pengalaman tersebut pada akhirnya membawanya kembali ke Apple dan membantu menghidupkan kembali perusahaan tersebut.

Tahun 1995 saya bekerja di pabrik di kawasan industri Jababeka, Bekasi. Tahun 1996, saya kuliah D3 informatika sambil bekerja. Tahun 1999 saya menjadi assisten lab komputer. Tahun 2000 sampai 2010 saya bekerja sebagai staff dan supervisor IT. Tahun 2011 saya memulai perjalanan membangun usaha, PT Excellent Infotama Kreasindo.

Baru di tahun 2021 saya menyelesaikan kuliah S1 Informatika. Karena semangat belajar, saya memutuskan untuk mengambil kuliah S2 Master of Science in Information Technology (MSIT) di President University pada tahun 2022. Setelah lulus, saya kemudian mengambil S2 Master Management Technology (MMTech) di kampus yang sama.

Setelah lulus kuliah, saya mengambil jurusan berbeda. Saya berangkat ke Magelang selama dua hari, kemudian ke Banyuwangi selama seminggu untuk belajar mengenai pertanian terpadu. Masih belum lengkap, saya juga berangkat ke Brebes selama seminggu untuk belajar mengenai budidaya bawang merah.

Kesemuanya rasanya acak dan jadi titik-titik yang saling terpisah, namun ternyata Allah SWT memberikan jalur yang kelihatannya berbeda agar saya bisa menghubungkan titik-titik itu, persis seperti yang dibilang Steve Jobs.

Ketika saya kembali aktif di perusahaan yang fokusnya adalah IT, pengetahuan yang didapat ini kemudian lama-lama mengkristal. Pembelajaran mengenai manajemen memberikan ide pada saya untuk membuat perencanaan dan mengeksekusi rencana tersebut dalam kegiatan yang dibagi kedalam beberapa milestone/tahapan.

Perencanaan yang dimaksud melibatkan solusi IT untuk meningkatkan kualitas dan produktifitas usaha pertanian. Usaha pertanian itu dijalankan dengan menerapkan konsep pertanian terpadu dari bapak Bayu Diningrat yang saya pelajari di Magelang, Banyuwangi kemudian ditambah dengan pembelajaran mengenai bawang merah di Brebes.

Perjumpaan saya dengan pak Bayu Diningrat juga mengkristalisasi niatan untuk bisa memberikan dampak dan sumbangsih bagi masyarakat. Saat berdiskusi di Magelang maupun di Karawang, pak Bayu memberikan gambaran jika kita memiliki pilihan apakah kita ingin menikmati hidup yang tenang atau mengurangi waktu dan kesempatan kehidupan pribadi untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Memberikan Sumbangsih pada Masyarakat

Saya biasanya memilih untuk menunggu waktu yang tepat jika ingin berkontribusi pada lingkup yang lebih luas. Supaya tidak bikin malu. Supaya bisa lebih disiapkan sebaik mungkin. Itu sebabnya, saya menunda mengundang sahabat baik saya, almarhumah mbak Icha (Marissa Haque) ke rumah kabin Zeze Zahra, agar tidak malu-maluin dan bisa lebih berdampak. Niatan itu tertunda sampai akhirnya mbak Icha berpulang beberapa waktu yang lalu.

Hal-hal seperti itu yang kemudian menyadarkan pada saya bahwa, mengapa harus menunggu sampai segalanya siap padahal bisa memulainya dari apa yang ada. Berkaca pada hal tersebut, upaya sumbangsih ini dimulai dari kondisi saat ini.

Langkah yang ditempuh antara lain bersinergi dengan dinas pertanian dan mengundang petani di lingkungan sekitar untuk bersama-sama mengupayakan peningkatan kualitas hasil pertanian. Bentuknya dalam bentuk menyediakan tempat untuk pertemuan, memfasilitasi PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dari dinas pertanian setempat untuk memberikan update dan wawasan pengetahuan hingga mendemokan sistem manajemen pertanian yang didesain oleh Aktiva bekerja sama dengan Zeze Zahra.

Prosesnya akan panjang dan mungkin akan membutuhkan waktu, biaya maupun tenaga yang tidak sedikit. Namun Perjalanan 1000 mil dimulai dari langkah pertama” (千里之行,始於足下). Sama seperti saat dulu membangun usaha Excellent dan Aktiva, “It’s always seems impossible until it’s done”.

Seperti yang sering disampaikan oleh ustadz, “Hidup di dunia pada hakikatnya adalah menjalani takdir”. Takdir yang satu bisa membuka dan mendorong perjalanan ke takdir yang lainnya dan harapannya adalah bahwa kesemuanya adalah takdir yang membawa pada kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *