Belajar Mendelegasikan Wewenang

Saya pernah membaca tulisan dari Linus Torvalds, pencipta Linux dalam bukunya “Just for Fun: The Story of an Accidental Revolutionary”:

“I did learn fairly early that the best and most effective way to lead is by letting people do things because they want to do them, not because you want them to. The best leaders also know when they are wrong and are capable of pulling themselves out. And the best leaders enable others to make decisions for them.”

Di Excellent, delegasi wewenang dijalankan secara alamiah dan bertahap. Sebagai contoh, awalnya seluruh approval masih saya lakukan. Setelah beberapa waktu, untuk penawaran dibawah 10 juta rupiah bisa langsung dicheck dan approve oleh manajer. Sampai dengan 30 juta rupiah diapprove oleh atasannya.

Limit nilai tersebut bertambah seiring waktu. Belakangan saya hanya mengecek di persetujuan akhir saja, untuk project tertentu yang akan berimplikasi besar pada keuangan Excellent.

Jangan bayangkan ini hal yang kompleks seperti di perusahaan besar. Karena Excellent masih kecil, jadi mekanisme pengambilan keputusannya relatif sederhana. Karena menggunakan model delegasi wewenang, saya jadi bisa mengerjakan berbagai hal lain tanpa terlalu khawatir pada rutinitas pekerjaan harian. Itu sebabnya saya jadi bisa kuliah dan mengikuti training disana sini.

Sebenarnya, kuliah dan training itupun ada relasi dengan tujuan perbaikan manajemen di Excellent sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *