Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu : Karyawan yang Memutuskan untuk Memulai Usaha

Diantara anak-anak orang tua saya, sayalah satu-satunya anak yang sejak awal tidak berminat pada wirausaha, meski kedua orang tua saya wirausahawan. Ibu saya membuka warung makan di Tambun dan bapak saya pedagang buah-buahan di Tambun. Sejak lulus SMA tahun 1995, saya langsung bekerja sebagai operator produksi di sebuah pabrik di Jababeka. 1 tahun kemudian, karena garing menunggu waktu shift (saya kerja shift 1 dan 2 bergantian setiap minggu), saya memutuskan kuliah dibidang komputer.

Lulus kuliah, saya pindah haluan, bekerja sebagai staff IT di sebuah perusahaan di Kawasan Delta Silicon Industrial Park, Cikarang sambil tetap bekerja sebagai Assisten Lab komputer di kampus Universitas Bani Saleh. Karir saya kemudian meningkat menjadi supervisor IT. Saya punya staff dan jadi punya waktu membaca lebih banyak. Saya senang membaca kisah-kisah wirausaha meski tidak tertarik untuk terjun ke dunia wirausaha. Saya membaca dan mengkoleksi banyak sekali bacaan tentang wirausaha.

Pada tahun 2010 saya memiliki peluang untuk membangun usaha sehingga mengajukan pengunduran diri pada atasan. Usaha yang dibangun berjalan hingga kini dan memberikan saya landasan awal untuk mulai mengembangkan wirausaha dibidang pertanian.

Jadi jangan membatasi diri atau memvonis bahwa diri kita tidak akan bisa. Kita tidak pernah tahu ujung jalan kehidupan kita. Yang perlu kita lakukan adalah melakukan apa yang bisa kita lakukan sebaik-baiknya. Apa yang tidak mematikan kita akan mendewasakan kita. Seperti kata Leo Tolstoy, “God Sees the Truth, But Waits” atau “Tuhan Maha Tahu tapi Dia Menunggu”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *