Saya berasal dari keluarga besar. Kami total 12 bersaudara. Kakak sulung dan adik bungsu sudah berpulang, jadi tinggal 10 bersaudara. Saat orang tua masih ada, kami kerap berkumpul di rumah orang tua. Setelah orang tua tiada, kami berkumpul di rumah masing-masing secara bergiliran.
Saat berkumpul, biasanya topik pembahasan bermacam-macam yang sifatnya khas keluarga. Namun lebih sering yang sifatnya proyek internal keluarga.
Dulu beberapa tahun yang lalu, kami berkumpul untuk menerapkan skema piramida gotong royong, waktu berusaha meningkatkan tingkat pendidikan keluarga. Saat itu rata-rata tingka pendidikan baru sampai SMA. Saya baru sampai Diploma. Jadi kami memutuskan untuk menaikkan level agar ada anggota keluarga yang mencapai level S1.
Bagi sebagian keluarga, ini merupakan hal mudah. Bagi kami, ini persoalan sehingga kami semua urunan agar adik kami Ackoy bisa kuliah S1 di Bandung. Setelah Ackoy selesai, dilanjutkan oleh almarhumah ching Dewi adik bungsu kami.

Setelah level S1 tercapai, dilanjut ke level S2. Ackoy melanjutkan pendidikan ke S2 MM kemudian saya menjadi orang kedua. Pola gotong royong ini yang sekarang dibakukan dalam skema iuran keluarga dengan mengambil inspirasi dari program CPF (Central Provident Fund) Singapore.
Cerita mengenai piramida gotong royong ini pernah saya tuliskan disini : https://www.vavai.com/piramida-gotong-royong/
Menurut saya, keluarga bisa menjadi bagian paling fundamental dari sebuah negara. Jika masing-masing keluarga berkomitmen pada kemajuan dan saling dukung, insya Allah akan bisa membentuk masyarakat yang kuat dan pada akhirnya membentuk negara yang kuat.
Keluarga yang berkomitmen pada kemajuan dan saling mendukung juga bisa mempengaruhi masyarakat di lingkungannya dengan caranya sendiri. Hal-hal yang baik bisa diduplikasi dan hal yang tidak baik bisa dieliminasi. Sekecil apapun nilai kebaikan dari upaya itu akan bisa menjadi kontribusi yang bermanfaat bagi kemajuan bersama.
Kami mulai dari level keluarga karena ini yang relatif paling mudah dikelola (dan kadang paling sulit pula, hehehe…). Di keluarga, kita bisa bicara blak-blakan. Kita bisa mendesain dan merumuskan rencana yang baik dan bermusyawarah untuk mencapai tujuan yang baik.
Latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, pengalaman usaha dan wawasan dari luar akan menjadi bagian yang memperkaya diskusi dan perencanaan sehingga proses kedepannya akan semakin baik.
Apakah ada rekan-rekan yang menerapkan pola yang mirip di keluarga masing-masing?