Beberapa hari yang lalu, saya melihat dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, saya melihat brosur rumah di salah satu perumahan elit di Bekasi. Sekedar iseng saja, karena ingin lihat harga properti di bekas sawah yang dulu sering saya lewati saat berangkat kerja ke Cakung Cilincing.
Harga rumah di kawasan ini berkisar antara 3-5 miliar rupiah. Seri terbaru kisaran harganya 9 miliar rupiah, bahkan lebih. Kalau dijadikan KPR, cicilan bulanan sekitar 40 juta rupiah.
Saat melihat-lihat brosur KPR itu, saya menerima pesan di WA. Isinya cerita mengenai saudara yang tinggal di dekat rumah orang tua saya di Tambun. Ia bilang bahwa keluarganya kehabisan beras di rumah. Anak sulungnya berhenti kerja sejak setahun yang lalu sedangkan anak bungsunya butuh susu. Si sulung terpaksa menjual sepatu untuk menjual beras. Ia bertanya apakah ada lowongan di perusahaan untuk anaknya.
Meski niat awal memang sekedar iseng membuka brosur, saya batal melihat lebih lanjut. Cerita soal keluarga yang memiliki penghasilan mepet merupakan cerita keseharian banyak keluarga. Saya ingin sekali membantu namun apa daya kemampuan juga terbatas. Perusahaan harus dijaga dan dikelola sebaik mungkin agar bisa tetap beroperasi dengan normal. Tidak bisa langsung menambah karyawan dengan mudah tanpa memperhitungkan kemampuan.
Jika saya ditanya, saya akan memilih untuk membantunya wirausaha. Namun masalahnya, wirausaha apa? Jualan produk saat ini juga bukan hal yang mudah. Menjual sayuran, buah maupun barang lainnya kerapkali harus berhadapan dengan daya beli yang rendah. Saya pikir, mungkin akan lebih baik jika peluangnya adalah dalam bentuk kerja digital.
Namun ini butuh proses, sedangkan orang lapar butuhnya solusi saat ini. Jadi saya saat ini menulis hal ini sambil memikirkan opsi yang tersedia. Sambil melakukan apa yang bisa dilakukan untuk bisa membantu mengatasi masalah yang paling utama.
Ini sebabnya saat memulai Zeze Zahra Excellent Farm dan menanam padi di sawah di Karawang, sebagian besar hasil panen dicadangkan sesuai pesan almarhum orang tua. Tujuannya memang untuk situasi darurat, salah satunya seperti contoh diatas ini.